Archive for July, 2007

Yuri… ..

Tuesday, July 31st, 2007

Di senja keemasan musim gugur itu

Ku begitu saja sudah berdiri dengan tari

daun kering menyapa gemulai

Tak tahu di tempat apa ku berdiri

Tak tahu di masa apakah ku termangu

Hanya terlihat sekumpulan orang
berseragam sama denganku berbaris tegar

Oh……, ini masa sekolah……

Namun…, kenapa berlangsung di senja
musim gugur keemasan ini…?

Entahlah…, dan biar lah……

Aku sudah cukup senang menyadari……

Bahwa aku dapat merasakan lagi masa yang
kandas tersapu ini…

Sebagai seorang siswa…

Hanya sebagai seorang siswa biasa…

Dan sekali ini aku akan sangat
menikmati…masa-masa pengulangan

ini……

Sebagai aku yang biasa dan tak pernah
terbebani apapun lagi…

Sesaat aku merasa ada senyum hangat
terefleksi di kiri belakang…

Sehangat inikah senyum……matahari
senja yang sesungguhnya…?

Tanpa sadar ku pun sudah begitu saja
memandang ke raut wajah bersinar mentari
dengan mata yang tak terlindung kelopak
manapun…

Bukan……

Bukan senyum milik mentari…

Lalu…

Milik siapa……?

Kuluruskan tatapanku menembus segala
ruang dan wajah

Dan satu wajah itu…terlihat sangat
ceria tersenyum ke arahku

Seolah…

Senyumannya pun tak terhalangi oleh
sosok-sosok tubuh dan kilau emas mentari

Dia tersenyum begitu cerianya padaku

Dan kebahagiaan sungguh membekas utuh…
di paras mukanya yang tak tampak
secoretpun cacat oleh noda rapuh dan
sendu

Siapa gadis ini…?

Kenapa senyum cerianya yang mutlak
diserahkan begitu saja padaku tuk
kumiliki…?

Tanpa sadar kedua tangan lembutnya telah
menggenggam tangan kiri kakuku…

Dia pun mengajakku berlari ke
manapun…, ke berbagai sudut sekolah
senja emas ini…

Dan kedua kakiku pun begitu saja ikut
berlari mengejar…

Mengejar aura cerianya yang menyelimuti
hangatnya aroma sekitar kami…

Dan entah sejak kapan hatinya yang ceria
telah begitu saja terasa dentumannya…

Jauh di dasar dentuman lubuk hatiku yang
terdalam……

“Yuri……”

Yuri……?

Siapa……?

Apa maksud hatiku bisikkan sepatah kata
nama terasa hangat terucap di bibir…?

Dan gadis itu hanya menoleh ceria
memandangku dengan tatapan sangat
bahagia…

Seolah dia sudah menunggu cukup lama,
sungguh cukup lama untuk ku…
sebut kata itu…

Yuri……

Jadi itu nama gadis ini……

Di keceriaannya yang tak terbatas ruang
dan waktu pun ku mulai perlahan
tersenyum…

Tersenyum semakin lepas…, semakin
tanpa beban…

Seolah…

Aku mulai ingat siapa gadis ceria
ini……

Dan sungguh ingin lebih lama lagi
kuhentakkan kakiku tuk lari…

Bersama gemulainya lari kecil gadis
penuh misteri ini…

Yuri……

Kriiiiiiiiing……

Jam weker……

Begitu ya……

Mimpi ini……, mimpi tadi……

Yuri……

Tak terasa mataku pun selalu ingin
fokuskan seluruh perhatiannya ke suatu
sudut

Ke suatu bingkai merah tua yang selalu
terawat dan abadi di kamarku…

Kanvas yang terlukiskan cat minyak
sebuah senyum

Hangat……, damai……

Dan setiap kali kulihat selalu
bisa……
membuatku bangkit lagi dari beribu-ribu
kali kematianku…

Oh……

Hanya senyuman nostalgis semata yang
sanggup kusapakan ke kanvas itu…
sebagai salam selamat pagiku
untuknya……

Yuri……

Aku masih ingat janji itu……

Untuk sekali lagi hidup dan berlari ke
mana-mana bersamamu…

Sebagai seorang siswa biasa yang tak
terbebani apapun…

Sebagai aku yang tak lagi simpan
keceriaanku jauh-jauh di dalam hati
tergelapku…

Bersamamu…

Kembali ke titik awal kehidupan…

Di saat kehidupan kedua kelak nanti kan
berucap…

Tuk kita berdua bersama…
Untuk sekali lagi……

Kembali ke masa yang sempat hilang oleh
banyak hal…

Dan juga untuk kelak nanti……
kubuang jam wekerku dan membiarkan
sapamu sendiri yang mengetuk pintu
mataku…

Begitu kan…, Yuri……. >_<.

kimi ga suki dato sakebitai.. .

Menjaga 2 Hati

Wednesday, July 25th, 2007

Di suatu hari yang lalu, aku bertemu dengan sesosok orang yang spesial. Dia terasa sangat seru, dan nyaman jika bersamanya. Dia juga selalu mengeraskan hatiku yang melunak depresi. Dan bersamanya, aku merasa jauh di atas kata senang, jauh di atas kata ceria. Dan baru kusadari kalau aku dan hatiku mulai cinta padanya.

Namun, waktu ternyata datang sebagai takdir. Dan kami pun pergi ke jalan kami masing-masing dengan ideal masing-masing. Aku pun pergi jauh, menyusur jalan berdebu dan padas ke masa depanku. Namun, entah kenapa hatiku mulai semakin lama semakin rapuh. Dan terasa nyeri yang sangat di hati saat ingat dan eja namanya.

Dan…, di suatu saat datanglah seseorang yang kehangatannya selalu jaga hatiku, selalu coba perbaiki hatiku yang semakin remuk karena cintaku yang terpisah oleh takdir. Dan…, di pengorbanan orang itu yang terbesar, di kehangatan dan keramahan hatinya yang selalu menyapaku, aku pun mulai menyimpankan tempatnya jauh di lubuk hatiku.

Di kebahagiaanku bersamanya, tak terasa lama waktu ini kembalikan aura masa lalu itu. Wajah itu, keceriaan itu, senyum itu, kembali lagi padaku tanpa takdir sempat memberitahuku. Dan saat ku sadar itu adalah orang yang dulu di masa lalu, hati masa laluku pun mulai mencair dan memanas karena cinta masa lalu yang bangkit kembali. Namun…, di sisi lain, aku sudah punya seseorang di sisi yang selalu hangat menyapa dan ramah menjagaku.

Di renungan bintang malam, aku pun mulai bertanya ke jutaan bintang yang menyaksikanku. Aku sungguh bingung untuk pilih satu dari mereka, karena tak ada dari mereka yang tak berharga di hatiku. Dan aku sungguh takut…untuk kehilangan satupun dari mereka, tuk kehilangan satupun khas dari mereka yang selalu membuat hatiku bersinar hidup lagi. Dan di tengah depresi dan keputusasaan karena dikejar takdir yang kelak memisahkanku dari salah satu dari mereka, aku pun tak terasa terlelap.

Di mimpi, sosok aneh berambut spike kuning keemasan pun duduk di sampingku dengan tersenyum
“Siapakah Anda?”
“Aku bintang yang kamu mintakan solusi.”
“Lalu, bagaimana? Apa yang harus saya lakukan…? Saya sangat takut…kehilangan satupun dari mereka…”

Namun, dia hanya tersenyum remeh.
“Egois sekali kamu…”
“Hah…? Kenapa…Anda berbicara begitu?”
“Egois sekali…kamu minta 2 orang itu untuk terus di jalanmu…”
“Maksud Anda…?”
“Apa kamu tidak tahu…? Manusia…selalu diikat oleh takdir. Banyak takdir yang menunggu manusia di depan. Takdir manusia dengan manusia yang ini, takdir dengan manusia yang itu, dan seterusnya. Dan kamu…hanya berpikir pada diri sendiri dan membiarkan mereka berdua diam di jalanmu, dan menghentikan takdir mereka demi kamu…?”

Aku pun diam membisu tanpa berkata-kata memandangnya. Entah kenapa sepertinya…aku mulai bisa melihat apa yang ingin disampaikannya. Dan dia pun melanjutkan ucapannya.
“Jauh di depan sana…, ada seseorang lain yang sedang menunggu giliran untuk menemani mereka yang kamu cintai. Ada takdir lain dari orang yang kamu cintai…untuk bisa bahagia dengan manusia lainnya… Namun, selama kamu menahan keduanya di sisimu, maka kamu tidak pernah bisa memberikan kebahagiaan. Kamu hanya akan membuat mereka berdua sakit…karena kamu suruh menunggu. Kamu tidak bisa membawa 2 orang sekaligus ke jalanmu, karena tidak akan mencapai kebahagiaan mutlak. Satu dari mereka harus lepas…supaya satu orang itu bisa menemukan kebahagiaannya di takdirnya yang lain…”

Aku pun tertunduk diam menyadari semua itu. Dan mataku pun mulai terbuka lebih lebar tentang masalah ini. Dan sosok itu pun berucap lagi.
“Kamu bukan anak kecil lagi, kan…? Karena itu…, mulailah memikirkan orang lain. Orang lain juga membutuhkan kebahagiaan di hatinya, sama seperti kamu. Orang lain…juga bisa lelah jika kamu suruh menunggu untukmu tanpa kepastian waktu. Karena mereka juga butuh melanjutkan takdir mereka yang sempat terhenti. Maka dari itu, coba kamu pikir matang2 mana yang kamu pilih dari keduanya, mana yang jauh lebih berharga bagimu, yang sangat berperan di hatimu. Dan biarkan satu yang lain lepas…untuk meraih masa depannya yang bahagia… Oke……?”

Sosok itu pun lenyap bersamaan dengan kaburnya mimpiku. Aku pun mulai bangun. Dan aku pun mulai tahu…kalau hidup ternyata serumit itu…dan dipenuhi dengan takdir. Bahwa aku sungguh egois…untuk menahan keduanya untuk tetap di sisiku…

Mungkin…, esok adalah hari di mana harus kuucapkan selamat jalan…pada salah satu orang yang pernah membentuk hidupku menjadi seberharga sekarang ini… Yang telah membuatku……jauh di atas kata ‘hidup’……

THE END