“Riki, jangan pergi…..”, ucap seorang gadis dengan berlinang air mata sambil memelukku erat.
“Biarkan aku ikut juga ke Jepang bersamamu. Aku tidak mau sendirian di sini…”
“Julia, kamu kan punya banyak teman di sini”, ucapku sambil menjauhkan Julia sedikit dan kemudian menatap matanya dengan tersenyum.
“Aku akan meminta mereka untuk terus bersamamu. Aku janji akan secepatnya menyelesaikan sekolahku di sana, dan aku akan ada di sini lagi bersamamu”
“Namun, secara perlahan dia melepaskan tangannya dari pinggangku dan kemudian menundukkan kepalanya. Sesaat kulihat kesedihan menerpa wajahnya. Julia Ester, apa yang sedang kamu pikirkan?
“Ada apa…….?”, tanyaku dengan khawatir
“Riki……,kamu sudah tidak mencintaiku lagi ya….?”, ucapnya sambil tetap menunduk dengan murung.
“Kenapa kamu bicara seperti itu, Julia?”, ucapku dengan terpana kaget.
“Kamu…..tidak percaya padaku….?
“Waktu….dan jarak….sanggup mengubah segalanya kan, Riki….?”, ucapnya masih dengan kepala tertunduk.
“Di sana….pasti terdapat gadis yang lebih baik dariku, lebih baik untukmu……”
“Julia….”, ucapku dengan sedih dan kacau.
“Kami terdiam beberapa saat karena benar-benar keadaannya kacau, pada diriku, dan mungkin dia. aku bingung tentang bagaimana caranya untuk membuktikan kalau aku tidak mencintai orang lain selain dia. Yap, aku harus mengungkapkan apa yang kurasakan padanya selama ini.
“Julia, kamu ingin tahu seberapa dalam perasaanku?”, ucapku dengan serius memandang Julia.
“Aku tidak akan mengungkapkannya lewat kata-kata, karena kata-kata bisa dimanipulasi. Aku ingin kamu merasakannya, menggunakan perasaanmu”
Julia memandangku tanpa berkata-kata.
“Aku memandang Julia dengan serius kemudian diam sesaat. Dengan perasaan berdebar yang kacau kupegang kedua lengannya. Dia langsung terpana memandangku dengan wajah memerah.
“Kamu…..mau apa…..?”, ucap Julia dengan pandangan terpaku penuh pada mataku. Aku memandangnya serius tanpa berkata-kata
“Riki……..”, ucap Julia dengan terpana dan dengan hati yang berdegup kencang.
“Kudekatkan wajahku, kupejamkan mataku, dan kucium dia. Untuk beberapa saat, beberapa detik, kubiarkan bibirku terus menempel di bibirnya. Lalu kulepas ciumanku secara perlahan sekalian memandangnya dengan segenap perasaanku. Terlihat dia memandang wajahku dengan terpana dan dengan muka merah. Sesaat kemudian mengalir air mata dari pandangannya yang terpana padaku.
“Sedalam inilah perasaanku untukmu.”, ucapku dengan serius memandangnya.
“Hiks….., ehm……..”, Julia terlihat sedih sambil mengusap berkali-kali air matanya yang terus mengalir.
“Maafkan aku ya……telah meragukanmu……” bisiknya.
“Sesaat dia menyandarkan kepala dan menenggelamkan dirinya di dadaku. Kudekap dia, dan kubelai rambut panjangnya yang kecoklat-coklatan dengan lembut. Terdengar di telingaku dia masih terisak-isak, meski pelan.
“Kamu bersedia menunggu untukku, Julia?”, tanyaku sambil tetap memeluk dan membelai rambutnya. “Apakah kamu juga akan melakukan hal yang sama untukku…?” jawab julia
“ Aku janji..!” kataku dengan yakin,
“Riki aku juga janji……..”, ucapnya dengan tegar.
“Setelah itu pun aku antar Julia pulang, karena dari tadi kami belum beranjak dari depan pintu sekolah. Sampai di rumahnya, dan hingga aku akan pulang pun kulihat dia masih memandangku dengan sayu. Aku pun sebenarnya juga tidak rela meninggalkannya, tapi bagaimanapun ini semua juga demi dia. Aku harus sekolah di Jepang untuk mempertajam pengetahuanku dalam membuat komik. Aku harus menjadi komikus yang memiliki cukup penghasilan untuk menghidupinya kelak.
“Keesokan harinya, pagi-pagi aku berangkat dari Solo menuju Jepang naik pesawat. Saat perpisahan di bandara tadi pun dia menangis terisak-isak saat aku akan pergi. Terkadang aku berpikir bahwa ini adalah suatu kesalahan, saat aku meninggalkannya seperti saat ini. 4 jam kemudian aku sampai di Tokyo dan lusanya aku bersekolah di sekolah yang menitikberatkan pada pembuatan komik. Aku mulai masuk dari awal lagi, kelas 1-1 di SMA Shiroibara.
“Di sana kemarin benar-benar membuat kepalaku sedikit berputar, karena itu pertama kalinya aku menerima pelajaran rumit tentang komik, tentang syarat panel yang ideal, latar belakang, perspektif, dll. Hari inipun aku menerima pelajaran yang sama sekaligus diberi tugas membuat komik pendek dengandeadline 2 hari oleh guruku bernama Onizawa Kenshin. Beliau mirip sekali dengan Kenshin Himura di Samurai X. Rambutnya merah kekuning-kuningan dan panjang serta dikucir. Hanya saja sifatnya lebih mirip dengan “Batousai” bukan Kenshin Himura soalnya kalau tidak mengumpulkan tugas meski hanya sekali, dia akan langsung mencantumkan nilai 4 di raport. Setelah pelajaran ini bel istirahat berbunyi. Terdengar dari belakang ada suara gadis yang menyapaku.
“Kamu bisa?”, ucapnya dengan melodis.
“Eh, entahlah, soalnya ini tugas pertamaku”, ucapku sambil menoleh ke belakang dengan kaget.
“Oh……”, ucapnya kemudian tersenyum dan memberikan tangan kanannya untuk berjabatan denganku.
“Kenalkan, nama saya Linda Redblooms, 16 tahun, dari Amerika.
“Oh, saya Riki, Martinus Riki, 17 tahun, dari Indonesia”, ucapku sambil menjabat tangannya dengan tersenyum. “Senang berkenalan denganmu…..”
“Sama-sama”, ucapnya sanbil tersenyum padaku.
“Rambutnya benar-benar khas, sangat mirip dengan Harada Riku di komik DNAngel, bentuk rambut bob dengan sisi belakang lebih pendek dari sisi depan. Malam harinya dia datang ke tempat kosku dengan wajah putus asa. Terlihat bekas air mata yang baru saja diusap di pipinya. Aku sadar bahwa dia benar-benar bingung tentang materi tadi pagi.
“Linda, kenapa….?” ucapku dengan khawatir.
“Apa kamu mau mengajariku tugas pak Onizawa….?”, ucapnya dengan murung.
“Aku sudah minta tolong pada beberapa siswa lain tapi mereka tidak mau. Mereka terlalu sibuk…” . Aku terpaku memandangnya tanpa berkata-kata.
“Kamu mau mengajariku…..?”, ucapnya sambil memandangku dengan wajah murung.
“Kumohon…..”
“Tidak perlu sampai begitu”, ucapku dengan tersenyum. Yuk
“Terima kasih, Riki’ ucapnya dengan wajah gembira.
“Aku mengajarinya hingga larut malam, sekitar jam 10 malam. Walaupun harus pulang larut, tapi dia sangat senang karena tugasnya selesai sekaligus dia menjadi paham tentang materi pak Batousai Onizawa. Kemudian aku mengantarnya pulang ke kosnya.
“Sekali lagi, terima kasih banyak ya, Riki”, ucapnya dengan tersenyum gembira padaku. “Kapan saja aku ada jika kamu perlu bantuan lagi”, ucapku dengan tersenyum padanya. “Terima kasih…..”, ucapnya dengan tersenyum sambil perlahan menundukkan kepalanya.
“Keesokan harinya tugasnya kukumpulkan. Akhirnya aku bisa lega setelah pak “Batousai” memberiku nilai 8,5. Paling tidak, aku masih di atas standar yaitu 8. Namun, berbeda dengan Linda. Saat menoleh ke belakang, dia menutupi matanya dengan tangan kirinya yang sekaligus dijadikannya sebagai penyangga di meja. Terlihat lagi air mata mengalir.
“Linda……” ucapku dengan sedih dan cemas.
“Aku hanya dapat nilai 7, padahal aku sudah berusaha keras….” ucapnya dengan murung sambil tetap menutupi matanya. “Mungkin, aku memang tidak pantas berada di sini. Mungkin seharusnya aku tidak mengambil jurusan ini….”
”Bolehkah aku tahu, untuk apa kamu menjadi komikus?” tanyaku dengan serius.”Aku….hanya ingin mengungkapkan perasaanku……”, ucapnya dengan sedih. Itulah yang mungkin masih kurang dalam komikmu, ucapku dengan tersenyum. Linda terkejut dan memandangku dengan matanya yang masih berair.
Kalau itu tujuanmu, maka kamu harus menempatkan tujuan itu ke dalam komikmu secara utuh, jangan setengah-setengah, kataku dengan tersenyum memandangnya. Kamu ingin mereka ikut merasakan perasaanmu, kan? Kalau begitu, ungkapkan hal itu dalam komikmu, persis seperti apa yang kamu rasakan.
Setelah hari itu, dia menjadi semakin berkembang. Nilainya menjadi semakin baik, bahkan seimbang denganku, 9,4. Dan seiring waktu dia terasa semakin dekat, seperti seorang partner bagiku. Semakin haripun kurasakan semakin jelas bahwa terdapat sesuatu yang mengganjal di hatiku padanya
Hari ini, Sabtu, 14 Agustus 2006, setelah 4 minggu dari hari itu, aku mengantarnya pulang, karena sudah terlalu sore dan angkutan mulai berkurang. Setiap kali dia tersenyum, kurasakan perasaan senang di hatiku saat melihat wajahnya. Kami sampai dan aku mengucapkan salam perpisahan padanya. Namun,dia menyuruhku menunggu sebentar karena ada hal yang ingin dibicarakannya.
“Mau membicarakan apa?” tanyaku.
“Tentang…..kamu……..” ucapnya sambil memandangku dengan serius.
“Aku…..” ucapku bingung.“
“Riki………, maukah kamu menjadikanku…….sebagai pacarmu…….?” ucapnya dengan pandangan yang tulus.
“Aku baru sadar……kalau aku mencintaimu…..”
“Aku…….” aku terpana dengan wajah memerah dan tak bisa berkata apa-apa
“Riki……..” ucapnya dengan memohon dan berwajah merah.
“Aku…..tak bisa memutuskan dengan cepat.”ucapku sambil menundukkan kepala dengan wajah memerah dan perasaan yang kacau. “Maaf., Aku akan menunggumu, kapanpun…..” ucapnya dengan tersenyum.
“Aku pergi dari kos Linda. Terasa hatiku berdebar kacau dan perasaanku meluap-luap girang. Namun, sesaat kurasakan ada sesuatu yang terlupakan. Ada perasaan sakit yang sedikit bergema di hatiku.
“Aku duduk di taman untuk memikirkan hal itu. Iya, aku rasa memang benar-benar terdapat sesuatu yang terkubur dan harus kugali lagi. Sesaat ku menoleh ke kiri. Kulihat terdapat sekuntum bunga putih tergeletak di atas teras. Bunga bakung, bunga yang selalu kusebut menggunakan bahasa Inggris, “Lily”.
“Lily…….” Ucapku dengan merenung sambil memandangi bunga bakung yang kuangkat dengan tangan kanan. “………….!!”
“Julia………” ucapku dengan mata terbelalak dan terpukul saat mengingat kembali hal yang hilang dariku.
Dengan rasa bersalah dan penuh penyesalan, aku menundukkan kepalaku. Kali ini, akulah yang terisak-isak, menyadari bagaimana bisa aku mencintai orang lain, sementara dia yang di sana sedang menungguku dengan penuh harapan, menanti janji yang pernah kulontarkan untuknya. Aku benar-benar telah berdosa padanya. Bunga “Lily” ini telah membuka mataku lebar-lebar tentang hal yang seharusnya kumiliki. Bunga “Lily”, bunga yang selalu melambangkan dirinya, bunga favoritnya.
Saat ini pula aku tersadar kembali tentang tujuanku berada di negeri sakura ini, semua hanya untuknya. Keesokan harinya, saat pulang sekolah aku menemui Linda. Ini akan terasa sakit untuknya. Tapi, bagaimanapun aku harus melakukannya.
“Riki……, bagaimana……..?” ucapnya dengan wajah memerah.
Linda……” ucapku sambil memandangnya dengan serius. “Maaf ya…… Aku…..tak bisa…….”
“Begitu ya…..” ucapnya dengan sedih sambil menundukkan kepalanya.
“Kamu pernah berkata….bahwa kamu di sini karena kamu ingin mengungkapkan ‘perasaanmu’, kan?” kataku sambil memegang pundaknya dengan tersenyum. “Seperti itu pulalah tujuanku ada di sini, untuk ‘perasaan’. Di negaraku sana terdapat seseorang yang memiliki ‘perasaan’ untukku, suatu hal yang selalu kuhargai atas dirinya. Karena aku ada di sini…..sebenarnya hanya demi dia seorang, supaya kelak aku bisa berharga untuknya. Karena dialah…..inspirasi utamaku….”
Kalau begitu, jadikan saja aku yang kedua….” Ucapnya sambil memandangku dengan memohon.”Aku rela kalau harus jadi yang kedua….. Aku…..sangat mencintaimu…., Riki……”
“Maaf, aku benar-benar tak bisa melakukannya.” Ucapku sambil menundukkan kepala. “Maaf…., Linda…..”
Selesai sudah. Semua masalah tuntas, meskipun itu menyebabkan Linda merasa sedih dan menangis. Walaupun begitu, aku tetap menganggapnya sebagai teman dekatku, begitu pula dengan dia. 2 tahun berlalu, dan akhirnya aku kembali ke kotaku, Solo. Julia, aku pulang.
Aku langsung ke rumah Julia, sampai-sampai aku belum pulang ke rumahku sendiri. Namun, di rumahnya pun tak kutemukan dirinya. Dan mungkin takkan pernah kutemukan lagi, kapanpun. Dia….telah lama pergi dariku, dari siapapun, dari semuanya.
Dengan mata yang terus berlinang air mata, ku berjalan menuju tempat yang gelap tanpa penerangan dengan penuh penyesalan. Tempat yang tak akan dikunjungi orang di malam hari. Semakin jauh ku melangkah, semakin berdarah dan perih hatiku. Tak ada yang bisa disalahkan atas semua ini, kecuali diriku.
Aku sampai. Berdiri di depan batu berbentuk salib yang terukir nama yang selalu ingin kusebut, Julia Ester. Lahir 14 Agustus 1988, meninggal 20 Februari 2007, tepat di hari ulang tahunku ke-19. Hari ini, 14 Agustus 2008, aku tertunduk berlutut di hadapan batu bertuliskan namanya itu, dan sekali lagi ku menangis terisak-isak. Seharusnya di hari ini pula aku datang padanya sebagai hadiah ulang tahunnya ke-20.
Julia……, selamat ulang tahun ya…..” ucapku dengan berlinang air mata sambil menciumkan bibirku tepat di ukiran namanya.
Setelah mencium, secara tak sengaja kulihat pada bagian bawah batu nisan tertulis “Pesan”, pesan terakhir Julia Ester. Tertulis di sana, “Aku Menunggu”. “Menunggu”, kata yang selalu kuingat saat pertama kali bertemu dengannya di kafe, saat aku “menunggu” sesuatu, saat mereka “menunggu” hidangan disajikan. Saat di mana pertama kalinya kuberikan senyuman padanya yang terlihat murung dan lesu. Saat pertama kali aku mengenalnya.
Kemudian aku pergi ke kafe itu, duduk di tempat ku pernah memberinya senyum. Pelayan kafe datang dan menawarkan hidangan-hidangannya. Kupesan kopi susu hangat, untuk mengurangi dinginnya hawa malam ini. Akupun merenung dalam keputusasaan.
“Untuk apa sekarang aku di sini…..?” ucapku dalam hati saat merenung dengan sangat putus asa dan sedih.”Ilmu ini, profesi ini, inspirasi ini, ada karena dan hanya untuknya. Dialah…..tujuanku selama ini…… Aku….. ingin mati saja……”
Sesaat kemudian pelayan datang membawakan kopi susu hangat milikku. Sementara aku minum sedikit-sedikit, kupandangi orang-orang di sekitarku. Ada yang marah-marah karena pesanan yang ditunggunya tidak belum datang juga, ada yang terlihat senang dan puas saat pesanan mereka datang, dan ada juga dari mereka yang merasa kenyang dan terpuaskan setelah menghabiskan santapannya.
“Menunggu di kafe….., menunggu pesanan tiba dan dihabiskan…..” ucapku dalam hati sambil meminum lagi kopi susuku dan memandang mereka lagi.”Kalau aku bunuh diri, akankah dia menungguku….ataukah pergi…..? Mereka pergi dengan kecewa saat pesanan mereka tidak datang-datang, namun mereka menerima dan menghabiskan pesanan mereka dengan senang dan puas saat pesanannya datang. Menunggu……., sebenarnya untuk apakah mereka menunggu…..? Untuk menyelesaikan hal yang belum tuntaskah? Apakah mereka pergi…..setelah semuanya tuntas? Apakah sebuah penantian…..akan usai setelah tujuannya tercapai, tujuan dari penantian itu sendiri….? ‘Menunggu’……? ‘Menungguku’……? Hah…?!”
Aku tersentak kaget sehingga kopi susuku tumpah sedikit. Pelayan pun datang dan memberiku lap untuk membersihkan bajuku. Saat aku sedang membersihkan bajuku, arti itu terlintas lagi. Benarkah itu adalah arti sesungguhnya dari “menunggu”? Benarkah itu adalah arti “menunggu” yang dia janjikan padaku, “menunggu secara utuh hingga pesanan tiba dan dihabiskan”, yang mana berarti menungguku hingga menyelesaikan semua, juga untuk setiap komik yang pernah kurancang untuknya?
Begitu…., ini ya yang dia inginkan dariku, untuk tetap maju dan berjuang ke depan meski tanpa dirinya. Dia akan menunggu…..selama aku terus berjalan ke depan, hingga aku benar-benar berhenti oleh karena takdir. Dia ingin aku hidup demi dia, seperti layaknya dia berjanji padaku untuk menunggu.
Kau janji untuk menunggu, maka aku akan terus hidup di sini, dan kelak akan benar-benar kutagih janjimu padaku.” Kataku dalam hati dengan tersenyum sambil membersihkan meja kemudian meminum habis kopi susuku.
Aku membayar dan segera bersiap-siap untuk pulang, karena aku merupakan penghuni terakhir di kafe ini, kafe “Lovely Lily”. Saat aku menoleh ke bangku di mana pertama kali ku memberi senyuman pada Julia, terlihat samar-samar seseorang berdiri berhadapan denganku di sana, tersenyum bahagia padaku. Julia Ester, begitulah kupanggil dirinya. Sesaat kemudian secara perlahan dia menghilang.
Julia Ester….., tunggu aku ya….” Ucapku dalam hati sambil tersenyum memandang bangku itu. “Kau telah mengatakan ‘Aku menunggu” padaku, jadi……jangan kecewakan aku. Aku mencintaimu, Julia.”