Archive for February, 2008

One Last Wish ( Just one of my short stories about Nindy )

Thursday, February 7th, 2008

"Aku bukan manusia lagi. Aku telah mati…sejak bertemu dengan satu gadis itu dulu…", kata itu selalu menjadi alarm hatiku yang membangunkanku tiap pagi. Huh, sangat membosankan. tiap pagi selalu saja bangun dalam keadaan yang tak pernah prima. Seolah, setengah tenagaku sudah kandas begitu saja entah ke mana.

Memang, mau tidak mau aku harus mempercayai kata-kata itu. Sejak tak lagi bertemu dengannya, aku seolah kehilangan mayoritas seleraku. Bahkan uang sekalipun tak lagi kuinginkan di dunia ini. Lalu, apa hal terakhir yang kuinginkan di dunia ini…?

Aku hanya bisa terus saja menulis puisi. Dan terus saja namanya terlukis begitu saja di setiap coretan ayatnya. Kenapa…? Kenapa seperti ini…? AKu ingin hidup seperti biasa lagi, tanpa ada kenangan tentang dia, tanpa ada senyumannya membekas di setiap mimpiku. Tapi, kenapa tetap saja…segala hal tentang dia menjadi satu hal yang hatiku sekalipun tak pernah mau rela melepasnya, sekalipun itu terasa sangat sakit untukku…?

Lagi, lagi, aku pun keluar rumah, naik sepeda motor dan berkelana mondar-mandir ke mana-mana tanpa arah dan tujuan. Dan lagi-lagi, terus saja pikiranku mengunciku untuk melewati jalan raya di depan sawah dekat rumahnya. Payah…, aku hanyalah seorang pecundang tak berharga, yang bahkan untuk bertatapan muka saja tak pernah punya nyali. Tak lagi punya tekad membara hanya setelah lihat dia sudah memiliki pasangan…, huh……

Dan tak terasa aku sampai di jalan yang dikelilingi tebing. Tanpa sadar aku naik sepeda motor dan naik gunung yang dihujani dinginnya air yang semakin membawaku ke keunguan hatiku. Huh biarlah, tersesat juga tidak masalah, matipun juga tak masalah bagiku… Toh…, aku sudah lama mati sejak berpisah dengannya.

Dan entah kenapa, tiba-tiba seorang pengendara cewek sepeda motornya selip akibat licinnya aspal oleh karena terjangan hujan lebat. Sesaat dia semakin miring ke samping kiri dan hendak jatuh ke tebing. Dan pada saat yang bersamaan, ada satu hal pada cewek itu yang membuatku teringat pada "sesuatu". Rambut pendek cewek itu yang sangat khas…, potongan bob Jepang yang semakin pendek ke belakang……

Di luar batas pemikiranku, entah kenapa begitu saja tangan kananku memutar erat-erat dan begitu saja tancap gas. AKu pun menengahi cewek itu, berada tepat beberapa senti sebelum jurang di sisi kiriku, dan beberapa senti di sisi kanan adalah cewek itu. Dan seperti dugaanku, cewek itu terus saja selip ke kiri dan menyenggol kendaraanku. Duag!! Sraaakk….

Cewek itu jatuh terseret ke sisi kanan. Akhirnya…, dia tidak jadi masuk jurang. Namun, di sisi lain aku juga sadar bahwa aku sudah keluar jalur dan mulai terjerembab ke jurang menggantikan cewek itu. Sesaat aku menoleh ke cewek itu. Cewek itu pun juga sempat menoleh ke arahku dengan terpana membeku.

Cewek itu……"dia"……? Ya…, sepertinya aku mulai tahu kenapa hatiku begitu saja mengontrolku untuk menggantikan cewek itu untuk jatuh. Karena cewek itu…adalah dia yang selalu ingin kutemui…… AKu pun sempat melemparkan senyum lega dan bahagiaku ke dia. Itu menjadi senyuman pertama dan terakhir yang sanggup kulemparkan ke dia. Namun, aku tak pernah menyesal…, karena pada akhirnya aku sanggup memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga dari segala cinta yang diberikan pasangan cewek itu…, "waktu tambahan…untuk cewek itu bisa merasakan hidup, juga cinta lebih lama lagi dengan pasangannya.

Brugg… Sraaaaaaakkkk……!! Semuanya pun menjadi gelap begitu saja. Dan saat terbangun, terlihat begitu saja seorang pria bersayap hitam kelelawar duduk di sampingku. Dia terlihat tersenyum remeh dan mengejek padaku.

"Memalukan sekali, phmhmhm……" dia pun sempat tak sanggup menahan tawanya yang ditahan. "Sori, aku benar-benar tak sanggup lagi menahan tawaku. Soalnya…, baru kali ini ada manusia terbodoh dari yang terbodoh…yang rela masuk jurang gara-gara menggantikan takdir orang yang sama sekali tak dikenalnya, phmhmhm……"
"Tidak, aku mengenalnya kok…" sanggahku.
"Lalu siapa cewek itu…?" tanya remeh pria itu.
"Dia Nindy Widyasari, yang sangat aku cintai dia teman dari mantan pacarku dulu…" jawabku.
"Bener kamu tidak salah orang…?" tanya pria itu lagi sambil menahan tawanya lagi. "Dari mana kamu tahu kalau dia Nindy yang kamu kenal?"
"AKu sangat kenal wajah, bentuk rambut, juga ekspresinya saat sedang sendiri…" jawabku sambil merenung. "Dan semuanya sangat mirip dengan ekspresinya waktu aku kenal pertama dengannya dulu, juga ekspresinya begitu polos dan memberi semangat sama seperti ketika dulu memberiku semangat kembali saat nonton event jepang…"
"Mirip bukan berarti sama kan…?" ucap pria itu lagi, lalu sesaat mencoba menghilangkan tawanya dan mulai tersenyum serius. "Jadi, sudah siap ikut aku ke neraka…?"
"……" aku hanya menganggukkan kepala tanpa beban sedikitpun.
"Kamu tidak tanya dulu apa kesalahan fatalmu…?" tanyanya mengingatkanku.
"Tidak perlu…" jawabku. "Cukup hukum saja aku seperti apa saja kesalahan yang kuperbuat……"
"……" pria itu terlihat menyilangkan tangannya di depan dada sambil menyipitkan mata. "Kamu orang yang tidak seru ya…, tidak mengasyikkan…"
"……" aku hanya diam saja, tertunduk berpikiran kosong memikirkan sesuatu yang aku sendiri yang jelas pastinya.
"Ya sudah, cepat pergi sana……" ucap pria itu tiba-tiba mengusirku dengan mata menyipit kesal.
"Hmm……?" aku pun hanya mengerutkan kening dengan bingung.
"Kalau orang sepertimu masuk nerakaku, aku bisa kehilangan selera ‘bermain’ selama bertahun-tahun nantinya…" lanjutnya.
"Maksud Anda……?" tanyaku dengan bingung.
"Pergi ke manapun kamu suka, pokoknya jangan ke nerakaku, titik……" perjelasnya lagi sambil serentak pergi meninggalkanku. "Oh ya, aku boleh tanya satu hal sebelumnya…?"
"Apa…?" tanyaku spontan.
"Andaikan kamu bisa hidup lagi, apa satu permintaan terakhirmu…?" tanyanya sambil menoleh sejenak padaku.

Aku pun mulai berpikir lagi. Tidak ada…, memang dari dulu aku tidak punya keinginan terakhir. Aku tidak pernah tahu apa keinginan terakhirku. Namun, sesaat terlintas begitu saja di benakku tentang suatu ekspresi yang sangat anggun dan polos.

"Menjadi pasangan hidup cewek itu……" ucapku begitu saja sambil terus merenung dengan pandangan kosong, lalu mulai tersenyum remeh. "Tapi itu satu hal yang paling mustahil untukku. Toh aku sudah mati, tidak perlu pikiran macam itu lagi…"
"Huh, masih saja keinginan terakhirnya sama membosankannya dengan orangnya…" ucap pria bersayap itu sambil berjalan lagi pergi meninggalkanku. "Dasar, manusia tolol manusia tolol……"

Sratt……, tiba-tiba begitu saja pandanganku menjadi hitam lagi. Dan bersamaan dengan itu, ada sesuatu yang terasa hangat di atas bibirku. Cahaya mulai memaksa masuk ke dalam kelopak mataku. Aku pun membuka mata.
Eh……? Tampak di atasku seraut wajah yang pernah kukenal di masa lalu. Dan bibirnya begitu saja menempel di bibirku serentak tangan kanannya membelai rambutku yang sudah memanjang menjadi sebahu.

"Kamu……?" ucapku sambil terpana membeku memandangnya.
"Eh……?!" dia sempat melonjak kaget ke belakang dengan wajah meronanya yang mutlak. "Kamu…sudah sadar…..?!"

Sesaat aku menoleh ke kalender di samping kananku. 2 Oktober 2016, 8 tahun sudah berlalu begitu saja…?

"Aku……" aku hanya mematung melihat kalender itu dengan heran.
"Kamu koma selama 8 tahun setelah jatuh dari tebing…" jawab cewek itu, seolah dia tahu isyarat mataku yang memandang ke kalender itu. "AKu sangat senang menyadari bahwa kamu selamat dari kecelakaan maut itu…"
"……" aku kembali menoleh ke cewek itu dan mencoba mengingat siapa cewek itu.

Rambutnya hitam kecoklatan panjang sebahu. Bentuk mata sipit itu, ekspresi mata itu…… Lalu senyum khas itu……

"Kamu……" ucapku sambil mencoba menebak-nebak. "Kamu Nindy Widyasari ya……?"
"……" cewek itu terlihat terpana sejenak, lalu tersenyum sambil mengerutkan kening. "Bukan…"
"Heh, bukan……?" ucapku bingung, lalu aku bersikeras. "Aku yakin kamu Nindy Widyasari, pasti… Ekspresi mata itu, bentuk mata itu, senyuman khas itu…, aku sangat kenal semuanya…"
"Lina Erika…" ucapnya sambil menyipitkan mata. "Tidak sopan lho mengganti nama orang seenaknya……"
"M…masak……?" aku kembali bingung.

Sesaat, aku kembali ingat perkataan pria bersayap hitam kelelawar di mimpi tadi,  "Mirip bukan berarti sama kan…?". Jadi benar kata pria itu…, aku menyelamatkan dan menggantikan takdir orang yang sama sekali tidak kukenal…? Tapi, bagaimana bisa ada cewek yang wajahnya sama persis dengan Nindy, juga setiap ekspresinya…?

"Kenapa cewek sepertimu ada di pegunungan saat hujan deras begitu…?" tanyaku begitu saja dengan pandangan kosong memandang ke depan. "Tidak seharusnya kan ada cewek melintasi jalan pegunungan yang curam itu, apalagi saat hujan lebat…"
"Itu……" dia terlihat merenung sejenak dengan sayu. "Aku mau menjenguk bibiku yang tinggal di pegunungan, karena sedang sakit, dan juga paman baru kerja luar kota. Rencananya aku ke sana menemani beliau hingga paman datang… Tapi, aku sungguh tidak menyangka gara-gara nekat tetap ke sana saat hujan lebat, maka aku harus membuat seseorang…… Maaf ya…, aku sungguh minta maaf……"
"Tidak masalah kok…, tidak perlu minta maaf…" ucapku sambil menunduk dan tetap berpandangan kosong, dan aku mulai ngomong begitu saja kehilangan kendali. "Menantang maut sudah biasa bagiku… Lagipula…, toh aku sudah tidak memiliki selera lagi di dunia itu. Jadi lebih baik jika waktuku…aku gantikan saja ke waktu orang lain yang hampir habis…"
"……" cewek itu hanya memandangku dengan sayu dan iba. "Anu…, boleh tahu namamu…"
"Radit,,Radit Hananta…" jawabku, lalu sesaat aku menoleh ke dia dengan bingung. "Memangnya kenapa tanya namaku…?"
"Tidak kenapa-napa kok…, cuma ingin tahu saja…" jawabnya sambil tersenyum hangat. "Lagipula, toh tadi kamu sudah tahu namaku, jadi tidak impas kalau aku tidak tahu namamu…"
"Oh…" aku kembali menunduk, lalu mencoba turun dari ranjang.
"Eh, jangan…!" larang cewek itu.
"Aduh…!" aku langsung begitu saja jatuh.
Bragg…! Terasa kakiku sama sekali tak ada niat untuk berjalan lagi. Jadi…, aku…
"Tidak seperti yang kamu kira kok…" ucapnya sambil membantuku bangun dan mendudukkanku lagi di ranjang dengan tersenyum seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan. "Tidak permanen…"
"……?" aku menoleh ke dia dengan bingung.
"Itu pula alasan kenapa aku di sini…" lanjutnya dengan tersenyum hangat. "Untuk membantumu berjalan sedikit demi sedikit…"
"Kalau begitu terima kasih banyak ya…" ucapku sambil tersenyum senang padanya.
"Selain itu karena…" tambahnya lagi, namun sesaat dihentikannya sendiri dengan sengaja, dengan wajah tertunduk segan.
"Karena apa…?" tanyaku spontan.
"Mmm…, anu……" dia terlihat mulai memandangku dengan tetap tertunduk, dengan ekspresi segan bercampur wajah yang mulai merona. "Radit…, apa aku boleh jadi sesuatu……?"
"Maksudmu…?" tanyaku bingung. "Jadi yang membantuku berdiri maksudmu…?"
"Bukan…" sanggahnya dengan wajah tetap merona misterius.
"Lalu…?" tanyaku lagi dengan bingung.
"……" dia terlihat diam sejenak dengan wajah merona tertunduk yang misterius, lalu mulai bicara. "Ini sudah 8 tahun berlalu kan…?"
"Iya, terus…?" tanyaku lagi ingin tahu apa yang ingin dikatakannya.
"……" dia kembali diam lagi dengan wajah merona tertunduk yang misterius, lalu kembali bicara lagi. "Selama 8 tahun ini aku terus menungguimu, dan belum sempat cari……pasangan………"

Aku pun mulai ikut diam dengan terpaku membeku memandangnya. Sepertinya, aku mulai tahu apa yang ingin dikatakannya. Tapi, masak……?

"Aku……" dia mulai bicara lagi, namun kali ini terasa seolah jauh lebih berat untuk diungkapkan dari sebelumnya. "Apa aku boleh menikah denganmu…dan menjadi istrimu……?"
"Eh……?" aku hanya melongo bingung bercampur heran bercampur setengah tidak percaya mendengar itu.
"Selain karena aku belum sempat cari pasangan, juga karena aku rasa kamu cowok baik…" lanjutnya sambil tersenyum sungkan dengan wajah merona. "Karena, cowok yang melakukan tindakan bodoh, apalagi mempertaruhkan nyawanya sendiri, hanya cowok baik hingga ke lubuk hatinya saja yang bisa……"

Satu kata itu membuatku ikut merona mutlak. Aku pun tenggelam ke fase diam untuk beberapa saat, hanya terpaku memandanginya dengan merona mutlak.

"Bolehkah…?" tanyanya lagi sambil tersenyum sungkan dan merona.
"………" aku diam untuk beberapa saat dengan wajah merona, lalu hatiku begitu saja menyuruhku lagi untuk mengangguk.

Dia pun terlihat tersenyum sangat senang mendengarnya, lalu memelukku di atas ranjang. Terasa degupannya berdebar kencang, namun auranya terasa sangat riang dan bahagia. Tak terasa kedua tanganku pun mulai balas mendekap punggungnya dengan erat.

Satu keinginan terakhir kah……? Meski sasarannya meleset, tapi cewek ini tidak jauh beda, bahkan lebih baik dan lebih paham tentang seperti apa aku. Seolah, aku memperoleh "Nindy versi malaikat".

"Oh ya boleh tanya…?" ucapku sambil tetap dalam posisi memeluknya erat.
"Tanya apa…?" tanyanya spontan.
"Apa kamu hari ini ulang tahun, 2 Oktober 2016…?" tanyaku.
"Eh……?" dia spontan menjauhkan kepalanya untuk memandangku dengan terpana heran. "Kok kamu tahu……?"
"Tidak, cuma asal nebak kok…" jawabku sambil tersenyum. "Dulu ada temanku yang ulang tahunnya juga hari ini…"
"Cewek yang namanya kamu pakaikan ke aku tadi, Nindy Widyasarii…?" tebaknya dengan tersenyum.
"Ehm…" jawabku sambil mengangguk. "Sudah, tidak perlu pikirkan cewek itu. Sekarang yang perlu dipikirkan adalah…, apa hadiah yang bisa kuberikan untukmu saat ini…"
"Tidak perlu, toh kamu masih belum stabil bbegini kondisinya…" ucapnya sambil tersenyum.
"……" sesaat aku melihat ke sesuatu di wajahnya yang membuatku mendapat jawaban tentang hadiahnya. "Oh ya Lina……"
"Hmm…?" tanyanya spontan sambil memandangku dengan polos.
"Diam sejenak ya, jangan bergerak dulu…" pintaku.
"Ada ap…pa……memangnya………" dia terlihat mematung memandangku dengan wajah mulai merona kembali, seolah tahu apa yang aku maksud.

Sekali lagi, terasa hangat. Terasa hangat saat bibirku mulai menyentuh bibirnya yang lembut dan tipis itu. Namun, kehangatan yang terasa entah kenapa jauh lebih menenangkan hati. Aku rasa karena kali ini aku menciumnya bukan sebagai "orang asing yang kuselamatkan begitu saja". Melainkan karena aku menciumnya sebagai…pasanganku, baik sekarang hingga kelak nanti.

Dan aku pun mulai sadar apa sesungguhnya satu keinginan terakhirku. Bukan "untuk menjadi pasangan Nindy Widyasari", melainkan……, "untuk memiliki pasangan yang sangat memahami dan menyayangiku sepenuh hatinya……". Terima kasih…… Terima kasih banyak……, oleh sebab satu keinginan terakhirku sanggup terkabulkan tanpa berakhir sia-sia……

THE END