Aku Terlalu Munafik Untuk Katakan Cinta (Untuk dia yang selalu di hatiku, meski tak lagi bisa disisiku..) 1 tahun aku mencintainya…^-^
Monday, March 31st, 2008“Koko…, mau molor sampai kapan…?”
tanya seorang wanita.
“Masih jam 05.30 pagi begini……” ucapku
sambil tenggelam ke bantal lagi. “Biasanya ya molor sampai 06.30 kok…”
“Memang sih…” ucap mama sambil menghela
nafas pasrah. “Tapi paling nggak sehari ini bangun pagi lah… Sekali-kali
merasakan bagaimana rasanya bangun pagi. Toh, lagipula hari ini kamu hanya
sekolah sampai jam ke-2 kan, 08.30…?”
Oh ya…, ini hari Senin…, dan di hari
ini guru ada rapat mendesak. Phew…, terpaksa aku bangun karena sudah
terlanjur nggak bisa pejamkan mata lagi… Meski mandi, sikat gigi, juga ganti
pakaian dan sarapannya kumolor-molorin cukup lama dan juga dengan sangat
santai, jam dinding masih saja menunjuk ke 06.00. Huh…, padahal sudah sengaja
kumolor-molorin selama mungkin lho…
Huh, aku pun berangkat jam 06.05 dengan
luntang-luntung nggak semangat. Habis, biasanya berangkat mepet sambil lari
kayak setan ke sekolahan, tapi sekarang…, hawa embunnya masih terlalu dingin
untuk bisa buru-buru lari. Hawa embunnya masih terlalu sejuk…untuk bisa
molor-molorin waktu lebih lama…
Phew…, sampai di sekolah jam 06.20.
Duh…, masih juga pagi, padahal tadi jalan kakinya kumolor-molorin selama
mungkin… Ya sudah lah…, nanti tidur molor sebentar di kelas…
Dugg…! Tanpa sadar saat aku masih
luntang-luntung nggak bersemangat masuk ke kelas, bahu kananku menyenggol bahu
kanan seorang cewek hingga dia beberapa saat kehilangan keseimbangan.
“Eh, sori……” ucapku sambil
cengar-cengir ke cewek itu, lalu, sesaat aku tertegun membeku memandangnya.
“……”
Cewek itu…memandangku dengan tajam dan
penuh kebencian, sama…seperti biasanya. Dan dia pun pergi tanpa berkata-kata.
Aku hanya menghela nafas pasrah yang wajar melihatnya.
Cewek itu sebenarnya teman sekelasku di
kelas 2F di SMA Josephine ini. Shizuna Manda, keturunan campuran
Jepang-Indonesia. Ibunya asli orang Jepang.
Hanya saja…, entah kenapa sejak kelas
satu lalu, dia sudah membenciku begitu saja. Aku nggak tahu penyebabnya, toh
sebelum dia membenciku, kami teman biasa yang cukup akrab. Apa mungkin…karena
aku dulu over pingin bisa lebih dekat dengannya ya…? Karena jujur…, di
pertengahan masa kelas satu lalu, aku pernah merasa ingin lebih sering
melihatnya, lebih sering bersamanya, juga lebih dekat dengannya. Dan
juga……, satu senyuman ceria pertama dan terakhir kulihat saat
itu…benar-benar membuatku jatuh ke tangannya, bahkan hingga sekarang ini,
meski sekarang dia sudah membenciku.
Phew…, pasti karena itu…, huh……
Andaikan saja dulu aku nggak terlalu memperlihatkan perasaanku dan keinginan
overku yang selalu ingin bisa setiap saat melihatnya…, pasti
sekarang……dia masih bisa kutemui…dan tersenyum ceria padaku seperti
dulu…… Huh…, harusnya aku tahu kalau cewek akan merasa nggak nyaman kalau
tahu satu temannya ada rasa ke dia.
Dan ditambah lagi sekarang ini di kelas
2F…, dia malah jadi sekelas denganku. Huh…, deritaku akan sangat panjang
banget nih, dapat tatapan tajam darinya selama setahun penuh, huh… Ini baru
berjalan 3 bulan sejak Juli pertama kali masuk dulu. Aku pun luntang-luntung
nggak bersemangat masuk ke kelas.
“Dapet hadiah tatapan tajam lagi dari
‘Sang Tuan Putri’…?” sindir Vincent, teman sebangkuku yang gemuk, dengan
tersenyum jahat. “Payah…, kamu ini nggak ahli simpan gelagatmu soalnya. Kalau
jatuh cinta, ya sembunyiin dulu seaman mungkin dan jangan sampai kelihatan. Toh
kalau dari dulu kamu bisa sembunyiin perasaan, sekarang kamu masih bisa lihat
senyum ceria ‘Sang Tuan Putri Mungil’ itu…”
“ ‘Mungil’ kepalamu…” balasku sambil
menyipitkan mata ke dia dengan agak kesal.
“Lha memang mungil kok, lha wong dia
tingginya di bawah standar tinggi cewek…” balasnya dengan tersenyum jahat,
lalu terlihat menunjukkan jari telunjuknya ke pangkal dagunya. “Lha dia saja
tingginya hanya sedaguku kok…”
“Kamu tinggi soalnya…, nggak tanya kalau
dia hanya sedagu.” balasku sambil menyipitkan mata. “Aku rasa dia juga
tingginya standar untuk ukuran cewek. Toh dia tepat sealisku…”
“Hei…, kamu nggak tahu ya…, aku ini
tingginya termasuk standar lho untuk ukuran cowok.” ucapnya, lalu sesaat
terlihat tersenyum jahat sambil menyipitkan mata padaku. “Lagipula, aku
tingginya standar begini kamu masih saja hanya sealisku. Lalu
kesimpulannya…?”
“……” aku hanya diam memalingkan wajah
dengan mata menyipit. “(Sepertinya, aku tahu apa yang ingin dia katakan…)”
“Kamu sama-sama mungil dengannya, hanya
saja dia mungil untuk ukuran cewek, kamu mungil untuk ukuran cowok…” ejeknya
sambil tersenyum jahat. “Dan ‘mungil VS mungil’ = pasangan sempurna…”
Aku pun langsung duduk dan meletakkan tas
begitu saja sambil menyipitkan mata ke depan. Dasar satu ‘bapak endut’ ini
selalu saja memberiku ceramah pagi, yang mana di akhir-akhirannya selalu penuh
dengan makna sindiran, huh… Tapi, benar juga sih apa yang dikatakannya. Andai
saja dulu aku bisa sembunyikan perasaanku, maka…dia nggak akan sebenci itu
padaku. Huh payah……, aku terlalu lugu untuk bisa sembunyiin perasaan.
Soalnya…, saat itu adalah pertama kalinya aku jatuh cinta……
Sesaat pas aku tiduran di meja, aku
melihat ke samping kananku. Terlihat banyak temanku, baik yang cewek maupun
cowok, sedang mengerjakan sesuatu. Aku hanya mengerutkan kening dengan bingung,
lalu aku lanjutkan tiduranku. Ngapain mereka…? Setahuku hari ini toh nggak
ada PR…
Pelajaran pertama, matematika, pun
dimulai. Di pelajaran matematika ini pun masih kulihat ada banyak yang
melakukan kerja sambilan mengerjakan sesuatu di laci mereka diam-diam, supaya
nggak ketahuan gurunya. Aku pun mulai mengerutkan kening dengan bingung bercampur
curiga.
“Eh Vincent, ngapain toh mereka…?”
tanyaku dengan lirih ke Vincent. “Mereka pada ngerjain apa…? Kok sampai
melakukan kerja sambilan dari ta…di…… Heh…?”
Aku spontan kaget dan termangu melihat
Vincent. Dia ternyata juga sedang melakukan kerja sambilan mengerjakan hal yang
sama.
“Berisik uh…, ni aku lagi sibuk…”
balas Vincent sambil terus fokus ke kerja sambilan itu.
Sebenarnya…, pada ngapain sih mereka
semua……? Aku pun melihat ke sekitarku, ke mana-mana. Dan tak sengaja, aku
sampai ke lajur paling kanan di kelas, meja keempat dari depan, meja keempat
dari 6 meja di lajur paling kanan itu. Terlihat sepasang tatapan tajam mengarah
padaku lagi. Uh……, aku nggak sengaja bertatapan ke cewek tadi, Manda……
Aku pun langsung balik pandanganku ke depan sambil menghela nafas pasrah.
“(Huh…, tambah lagi deh deritaku……)”
ucapku dalam hati sambil menghela nafas pasrah.
Kriiiiiiiiing…!! Bel usai pelajaran
pertama pun berbunyi. Masih seperti tadi, mereka tetap melakukan kerja sambilan
mengerjakan sesuatu. Aku pun menghela nafas pasrah sambil tertunduk bingung.
Sesaat, guru absensi masuk untuk mengabsen siapa saja yang masuk.
“Kamu lupa toh…?” tanya lirih Vincent.
“Heh…?” ucapku bingung.
“Rabu dulu, pas pelajaran biologi
terakhir, toh kita disuruh memberi nama latin bagi setiap tumbuhan yang
dituliskan oleh gurunya sebagai PR…” ucap Vincent dengan lirih. “Dan setelah
jam ini toh masih sempat ada 1 jam pelajaran untuk biologi… Kamu sudah
ngerjain…?”
“PR biologi ya…” ucapku dengan wajar
sambil berpikir sejenak, lalu aku spontan mengerutkan kening dengan berkeringat
dingin. “Heh…, PR biologi…?! Wah…, aku lupa nulis nama-nama
latinnya……!!”
Karena ucapanku lumayan keras,
sampai-sampai terdengar ke telinga guru absen.
“Ada apa Koko, kok pagi-pagi sudah ribut
sendiri…?” ucap guru wanita itu sambil menyipitkan mata.
“Oh……” aku langsung cengar-cengir
sambil garuk-garuk kepala. “Nggak kok Bu…”
Aku pun langsung tolah-toleh ke sana-sini
dengan kacau dan bingung mau pinjam siapa PRnya. Karena sangat bingung, aku pun
berniat menjiplak milik Vincent saja.
“Aku pinjam PRmu ya…” pintaku lirih pada
Vincent.
“……” dia terlihat menyipitkan mata ke
aku, lalu menyerahkan bukunya dari bawah. “Nih…”
“Trims…” ucapku dengan bersemangat lagi
serentak mulai mengacak-acak buku di tasku.
Buku biologi, buku biologi, buku
biologi…… Duh, cepat…, nanti keburu guru biologinya masuk… Biologi…, biologi…,
heh……? Heh……?!
“Nggak ada……?” ucapku dengan keringat
dingin semakin mengucur deras, lalu kutenggelamkan kepalaku dengan patah
semangat ke tas. “Aku lupa nggak masukin buku biologinya ke tas…… Mati
aku…… Tahu begini tadi mending aku nggak berangkat pagi-pagi………”
“……” guru wanita itu lagi-lagi dengar
suaraku yang lumayan jelas dan menyipitkan mata padaku, lalu tersenyum dan
menyipitkan mata padaku. “Berjuang ya… Selamat mendapatkan sanksi pas
pelajaran biologi ya kalau begitu…… Toh, habis ini pelajaran biologi……
Dasar…, dari dulu ni anak ceplas-ceplos terus adanya……”
Guru itu pun pergi dari kelas sambil
geleng-geleng kepala dan tersenyum mengerutkan kening padaku.
“Huff……” aku menghela nafas pasrah sementara
masih menenggelamkan kepalaku ke dalam tas.
“Kamu ini……, oon atau bloon
sih……?” ucap Vincent tiba-tiba sambil menyipitkan mata dan mengerutkan
kening dengan aneh padaku.
“Apa lagi……?” tanyaku dengan nada
nggak bersemangat sambil menyipitkan mata menoleh ke Vincent. “Berisik…, aku
lagi nggak mood nih…”
“Kamu tahu guru absensi tadi siapa…?”
tanya Vincent sambil mengerutkan kening dengan aneh.
“Bu Kadarsih kan…” jawabku. “Lalu
kenapa?”
“Lha kamu tahu guru biologi siapa…?”
tanya Vincent lagi.
“Bu Kadarsih.” jawabku lagi sambil kembali
menenggelamkan kepala ke tas dengan nggak mood.
“Lalu…?” tanya Vincent lagi memancing.
“……” aku masih tenggelam dalam tas
sementara setengah berpikir.
Guru absensi di kelas 2 ini Bu Kadarsih.
Lha terus kenapa…? Tunggu…, guru biologinya kelas 2 ini……Bu Kadarsih.
Bu Kadarsih dan Bu Kadarsih……, heh……?! Aku serentak berdiri karena
sangat kaget.
“Jadi aku tadi…omong keceplosan di depan
guru biologiku sendiri……?” ucapku sambil terpana membatu dalam keadaan
berdiri, lalu aku pun menundukkan kepala dengan menghela nafas pasrah semakin
panjang. “Mati beneran aku……”
Hwhmhmhmhmh……, terdengar suara tawa
dari sekitarku. Ada juga yang nggak bisa tahan tawanya, sampai-sampai mukul-mukul
mejanya sendiri karena mendengar omongan ceplas-ceplosku tadi. Huh……, aku
pun hanya bisa menenggelamkan kepala ke meja dengan pasrah dan tanpa semangat.
“Payah……” ucap Vincent sambil
menyipitkan mata. “Tuh kebiasaan keceplosanmu sebaiknya harus mulai kamu
hilangkan sedikit demi sedikit… Parah kamu ini, keceplosan nggak kerjain dan
bawa buku biologi, pas di depan guru biologi yang sedang melakukan absensi
lagi…”
“Pagi…” sapa guru wanita itu lagi, namun
sekarang sebagai guru biologi.
“(Mati beneran nih aku, dihukum suruh
bersihin lantai dan seisi ruang biologi yang baunya amis juga menyengat…)”
ucapku dalam hati sambil tetap tenggelam dalam meja dengan pasrah. “(Baunya
seperti daging mentah yang mengerumuniku pas nanti di sana… Huh…, moga-moga
saja aku nggak muntah nanti……)”
Seperti biasa, guru itu langsung begitu
saja berkeliling untuk memeriksa PR. Aku tinggal nunggu ‘malaikat kematian’
nongol di sampingku nih… Bu Kadarsih semakin mendekat. Namun, entah kenapa
saat sampai di tempatku, dia hanya lihat ke PR Vincent saja. Huh…, aku lupa
kalau tadi beliau sudah dengar sendiri dari ceplas-ceplosku kalau aku sama
sekali nggak bawa buku biologi…… Ya sudahlah…, tinggal nunggu eksekusi
kalau begitu……
Ternyata, selain aku, ada 6 anak lainnya
yang ketangkap, 4 cowok dan 2 cewek yang belum kerjakan, juga belum selesaikan
PR lebih dari setengah jumlah 50 nomor total soal. Yah…, paling nggak ada
orang lain yang akan kena serangan muntah di ruang biologi selain aku…
“Oke, seperti biasa sekarang kalian
berenam ke ruang biologi untuk bersihkan ruangan sebagai hukumannya.” suruh
guru itu.
“Lha Koko Bu…?” tanya seorang dari
mereka. “Dia juga nggak ngerjain PR kan?”
“Memang…” jawab guru itu sambil
menyipitkan mata dan tersenyum padaku. “Ibu juga sebenarnya mau hukum dia.
Hanya saja, karena dia ceplas-ceplos begitu saja ngaku kalau belum kerjain PR,
ya ibu biarkan lolos dari sanksi. Paling nggak ibu anggap nilai tugasnya kali
ini cukup, nilai 6,5.”
“Heeh……?!” seru keenam siswa tadi
dengan mengeluh.
“Tapi, ibu hanya sekali ini saja ngasih
amnesti…” ucap beliau sambil menyipitkan mata padaku. “Kalau lagi-lagi nggak
ngerjakan PR, kamu akan kena hukuman, bahkan 2 kali lipat. Anggap saja ini kamu
hutang satu hukuman. Jadi, jangan sampai nggak ngerjakan PR lagi, oke…?”
Aku pun menghela nafas panjang dengan
sangat lega. Huh…, beruntung beruntung… Phew, selamat dari neraka berbau
amis deh……
“Beruntung amat…” ucap Vincent sambil
menyipitkan mata dengan heran padaku. “Kapan-kapan aku juga coba ah
ceplas-ceplos begituan…”
“……” aku hanya menyipitkan mata ke
dia.
Kriiiiiiing……!! Pelajaran pun selesai,
dan saatnya pulang.
“Eh Koko…, latihan musik sebentar…”
ucap seorang teman cewek.
“Musik…?” ucapku bingung.
“Toh besok kelompok kita yang pertama kali
maju…” ucap teman cewek lain di sampingnya.
“Oh, oke lah…” balasku sambil mendekat
ke mereka.
“Anu, Koko…” panggil satu teman cewek
yang di samping mereka berdua yang sedang bawa gitar.
“Hmm…?” tanyaku spontan.
“Bisa betulin ni senarnya…” pintanya.
“Salah satu senar kecilnya lepas satu……”
“Oh…” aku spontan mengambil gitar itu
darinya dan mulai memasang dan mengencangkan senar itu.
Duh……, kok tiba-tiba aku…… Aku
ingin buang air kecil nih… Aku mulai menggerak-gerakkan kedua telapak kakiku
untuk menahan itu selama latihan. Tapi, pada akhirnya nggak bisa.
“Tunggu, aku ke toilet sebentar…” ucapku
sambil lari secepatnya keluar kelas.
Aku pun langsung lari ke toilet terdekat.
Duh…, yang terdekat masih di lantai satu lagi, padahal ini lantai dua. Ya
sudahlah, ngapain ribet-ribet mikirnya…?
Aku langsung nyelonong masuk begitu saja
ke toilet cowok dan buang air kecil. Huh dasar…, ganggu orang latihan saja…
Aku pun keluar dari toilet cowok. Namun,
saat keluar, secara bersamaan Manda juga pas lewat di depan. Ah…… Aku hanya
tertegun memandangnya, sementara dia tetap memandangku dengan tajam seperti
biasa. Aku pun spontan langsung menundukkan kepala dengan merasa nggak enak
padanya.
Namun…, entah kenapa dia kali ini diam
lebih lama untuk menatap tajam padaku. Sesaat…, dia mulai mendekatiku. Menyadari
itu, aku pun mulai memandang ke dia lagi dengan bingung.
“Aku ingin bicara sebentar denganmu…”
ucapnya singkat dengan pandangan tetap tajam padaku, lalu dia mulai jalan
begitu saja mendahului.
‘Bicara sebentar denganku…’? Meskipun
aku merasa sangat nggak enak dengannya, aku pun mulai mengikutinya. Aku ingin
tahu apa yang ingin dia bicarakan denganku, setelah sejak kelas satu lalu dia
selalu hanya menatap tajam ke arahku. Oh ya sekalian…aku nanti mau minta maaf
padanya tentang masa kelas satu lalu, yang mana perasaanku membuatnya nggak
nyaman dan muak melihatku… Aku ingin bisa berteman biasa lagi dengannya
seperti dulu, hanya berteman saja…, karena aku merasa sangat tersiksa kalau
terus merasakan tatapan tajam dari orang yang kucintai sendiri…
Kami pun sampai di taman sekolah. Dia
berhenti dan tetap berdiri membelakangiku dan memandang ke tumbuhan-tumbuhan di
taman itu. Dengan hati yang cukup sungkan padanya, aku pun mulai bicara.
“Ada…perlu apa……?” tanyaku dengan
sungkan. “Oh ya…, sebenarnya…, aku juga ingin membicarakan sesuatu
denganmu. Maaf…, di masa kelas satu lalu aku…”
“Aku dulu yang bicara…” selanya dengan
nada dingin.
“Oh…, baiklah……” aku kembali
menunduk dengan perasaan nggak enak.
Sesaat dia terlihat membalikkan badan ke
arahku dengan tatapan tajamnya, dan secara perlahan mulai mendekat ke aku. Dia
pun berhenti tepat 3 langkah di depanku.
“Kamu mau minta maaf padaku…tentang masa
kelas satu lalu, tentang perasaanmu yang membuatku merasa nggak nyaman dan membuatku
membencimu…?” tebaknya dengan tatapan tajam.
“Ehm……” aku menganggukkan kepala, lalu
kembali tertunduk sungkan. “Aku…, kalau bisa aku ingin kembali berteman
denganmu seperti biasa. Anggap saja…aku nggak pernah memiliki perasaan itu
padamu… Aku juga akan coba sedikit demi sedikit menghilangkan perasaan ini,
asalkan dengan begitu kita bisa berteman lagi…”
“Mana bisa…” balasnya sambil memalingkan
pandangan tajamnya dariku. “Aku sudah terlanjur tahu, mana bisa aku pura-pura
nggak tahu kalau kamu ada rasa padaku. Aku tetap merasa nggak nyaman. Hatiku
tetap nggak bisa bohong kalau aku sebenarnya tetap nggak nyaman dan merasa
terganggu dengan perasaanmu itu…”
“……” aku pun menundukkan kepala dengan
sepi dan cukup sedih mendengarnya.
Dia tetap begitu saja memandangku dengan
tajam. Namun…, sesaat entah kenapa pandangannya tiba-tiba menjadi sayu
padaku.
“……” aku memandangnya dengan bingung
tannpa berkata-kata.
“……” dia terlihat menunduk dan
memejamkan mata dengan sayu dan sangat sakit.
Greb…… Eh……? Aku hanya bisa
terpana membeku memandang ke depan dengan pandangan kosong, sementara Manda
sudah begitu saja memelukku dengan erat. Apa…ini……?
Kenapa…Manda………
“Aku selalu iri padamu……” ucap Manda
dengan berat, sementara mulai terdengar isakan lirih dalam kata-katanya. “Kamu
selalu bisa ceplas-ceplos dan omongan lepas… Kamu selalu mudah
mengekspresikan perasaanmu pada siapapun…… Kamu juga…cukup bodoh untuk
bisa menyembunyikan perasaanmu padaku…… Kamu tahu…, itu yang selalu
membuatku nggak nyaman sepanjang waktu setahun ini……”
“Maaf…kalau begitu…” ucapku dengan
merenung sayu.
“Kamu……terlalu lugu…sebagai
cowok……” lanjutnya dengan nada berat diiringi isakan tangis, sementara
masih memelukku dengan sangat erat. “Aku iri…… Aku sangat iri padamu yang
sukar menyembunyikan perasaan……, sedangkan aku……, aku selalu memakai
‘topeng’ ke mana-mana, saat berhadapan dengan siapapun…… Aku orang yang
selalu bermuka dua, selalu munafik… Karena itu aku iri…melihatmu yang
selalu ceplas-ceplos dan omong apa adanya pada siapapun…, juga nggak pernah
sembunyikan ekspresimu dari siapapun……”
“……” aku hanya merenung diam,
sementara aku masih bingung memikirkan maksud omongan Manda.
“Karena itu…, gara-gara kemunafikanku
pula…, aku jadi sangat menyia-nyiakan waktu setahun ini yang seharusnya
sangat berharga untukku……” ucapnya dengan berat dan penuh isakan, lalu
sesaat dia menengadah memandangku dengan mata dan pipinya yang lembab oleh air
mata. “Aku jadi membencimu…karena hal yang nggak pernah kuketahui sebabnya…
Aku……, aku……… Aku membencimu……, karena aku terlalu munafik… Aku
terlalu munafik untuk katakan…hal yang sama……”
“……” aku terpana membeku memandang
Manda.
“……” dia kembali tenggelam ke dadaku
dengan sangat erat dan dengan terisak-isak dengan nada yang sangat pilu. “Sejak
bertemu denganmu…, aku menyadari banyak hal… Aku jadi tahu…seperti apa
rasanya berperasaan apa adanya, hanya dengan melihatmu…… Selama bersamamu
saat itu…, aku pun mulai bisa…tersenyum apa adanya. Aku mulai bisa
menemukan senyuman ceriaku yang dulu sudah lenyap…… Dan sejak aku
mengetahui kalau kamu sudah mulai jatuh cinta padaku, aku……sungguh nggak
tahu…… Aku sungguh nggak tahu arti dari degupanku… Aku mulai merasa nggak
nyaman. Dan setiap dekat denganmu, aku merasa harus secepatnya menjauh…,
karena entah kenapa aku merasa bahwa aku nggak akan kuat kalau lama-lama di dekatmu……
Sejak itu aku mengartikan rasa nggak nyaman itu…dengan ‘benci’… Aku nggak
bisa dekat denganmu lama-lama, karena aku mulai benci padamu. Namun…, aku
nggak pernah tahu, kenapa aku selalu rindu kalau melihat omongan ceplas-ceplos
apa adanya darimu… Aku selalu merasa sakit setiap kali mendengar omongan
lepas itu…… Ada rasa ingin bisa dekat lagi seperti dulu, namun aku
terlanjur benci…… Karena itu aku selalu sebisa mungkin menghindarimu… Aku
nggak ingin dengar omongan ceplas-ceplosmu yang lepas darimu… Karena aku
selalu sakit…kalau mendengarnya……… Emmh aku…………”
Tanpa berpikir lagi, aku pun langsung
balas memeluknya dengan erat, sebelum dia sempat melanjutkan ceritanya lagi.
Dia sempat menengadah padaku dengan terpana membeku. Namun, aku kembali
menenggelamkan kepalanya ke dadaku dengan tangan kanan yang kubelaikan di
rambut hitam kecoklatannya yang sebahu. Sesaat aku membelai lembut rambutnya
untuk mencoba menenangkannya.
“Aku nggak perlu dengar lagi lebih
lama……” ucapku dengan nada tenang sementara masih membelai rambut kepala
belakangnya.
“Tapi aku belum selesai…, masih ada yang
ingin kukatakan……” ucapnya sambil menjauhkan pelukanku sejenak sambil
menengadah memandangku.
“Kamu terlalu munafik untuk katakan cinta,
itu kan…?” tebakku dengan tersenyum hangat, lalu dia mulai kupeluk erat lagi
dan kutenggelamkan kepalanya di dadaku lagi. “Aku sudah tahu kok…… Karena
beginilah Manda yang kukenal…… Karena kamu memiliki cara sendiri kan untuk
ungkapkan perasaan…? Aku nggak pernah mempermasalahkannya…. Semunafik
apapun kamu, selama kamu mau bicara denganku, maka aku akan selalu tahu makna
kata di balik kata-kata munafik itu. Aku akan selalu bisa melihat…seperti apa
hatimu yang asli…selama kamu dekat denganku. Karena aku sudah
terbiasa…dengan sifatmu ini…”
“Koko……” ucapnya dengan nada berat
saat tenggelam di dadaku, lalu dia mulai memeluk dan tenggelam lebih dalam lagi
ke dadaku dengan isakan yang mulai jelas terdengar. “Maaf ya aku…aku……
Aku sama sekali nggak bermaksud membencimu. Aku sama sekali nggak bermaksud
mengambil jalan seperti ini…… Karena selama setahun lalu…, sebenarnya aku
sangat ingin untuk……………”
“Kenapa…kita nggak menebus waktu yang
hilang selama setahun itu…?” usulku dengan tersenyum hangat sambil tetap
memeluknya sementara kusandarkan kepalaku di bahu kanannya.
“Koko……” dia pun terpana membeku
memandang kosong ke dadaku.
“Kamu ingin bisa di dekatku lagi kan…? Sementara
aku…juga sangat ingin bisa kembali bersamamu ke mana-mana…” lanjutku. “Karena
itu…, kenapa nggak kita mulai lagi saja…dan kita tebus masa-masa yang
hilang dengan sia-sia itu dengan masa-masa sekarang ini…?”
“……” dia menjauhkan pelukanku sejenak
sambil memandangku, lalu sesaat tertunduk segan. “Aku…nggak ingin membuatmu
menderita lagi dengan kebencianku yang nggak bermakna ini… Karena aku
rasa…masih ada banyak sekali rasa munafikku…yang nanti membuatmu semakin
menderita…… Karena itu……, sebaiknya kita berteman saja seperti dulu,
jangan jadi pacar…”
“……” aku sesaat tersenyum memandangnya
sambil memegang kedua pundaknya. “Nggak…”
“……” dia terlihat terpana memandangku.
“Seperti katamu tadi…, aku nggak akan
merasa nyaman…” lanjutku dengan tersenyum hangat padanya. “Karena aku nggak
akan bisa bohong pada hatiku…kalau aku mencintaimu. Lagipula…, kamu tahu
sendiri kan…? Menyembunyikan perasaan adalah hal yang paling sulit untuk bisa
kulakukan… Juga……”
Aku spontan meletakkan tangan kananku di
atas degupan jantungnya. Dia pun terlihat memandangku dengan merona.
“Apa…yang kamu lakukan…?” tanyanya
dengan wajah merona.
“Keinginan yang ada di degupanmu
ini…juga nggak untuk hanya berteman kan…?” lanjutku dengan tersenyum
hangat. “Tak apa… Aku nggak akan menderita kok, meski harus dengar
kemunafikanmu setiap saat. Aku jauh lebih menderita…jika nggak bisa
bersamamu……”
Dia pun terlihat terpana membeku padaku.
Dan sesaat, air matanya yang baru saja berhenti kembali mengalir lagi. Dia pun
kembali tenggelam ke dadaku sambil terisak-isak. Aku pun mulai memeluknya erat
dan membelai rambut kepala belakangnya.
“Maaf…, maaf maaf maaf maaf maaf maaf
maaf…………” ucapnya dengan terisak-isak di dadaku. “Jika aku……nanti
terus membuatmu menderita dengan kemunafikanku ini…, maka……… Maaf
ya………”
“Ehm…, akan selalu aku maafkan
kok……” balasku dengan tersenyum hangat sambil menyandarkan kepalaku di
pundaknya. “Lagipula, aku jadi mencintaimu, juga karena kemunafikanmu itu.
Sampai kapanpun…, biarlah tetaplah seperti itu…… Jika kamu ingin
ungkapkan seperti apa perasaan-perasaanmu yang sebenarnya, cukup peluk aku, dan
bicara padaku seperti apa adanya kamu. Seberapapun munafiknya kata-katamu…,
aku akan bisa tahu apa yang ingin kamu katakan……”
“Ehm……” jawabnya sambil mulai lebih
dalam lagi tenggelam ke dadaku.
Nggak pernah kusangka…, bahwa selama
ini…bukan aku saja yang menderita karena berpisah. Ternyata…, dia pun
menderita karena terus munafik…untuk bisa kembali dekat denganku. Dan saat
ini pula, aku rasa aku tahu apa yang harus kulakukan… Aku…yang harus terus
memulainya. Aku yang akan jadi hatinya, yang akan mengatakan hal yang nggak
bisa dikatakannya.
Lagipula…, ada saatnya nanti aku butuh
orang yang munafik dan bermuka dua…untuk bantu aku sembunyikan perasaan yang
ingin kusembunyikan dari orang-orang tertentu… Aku nggak perlu belajar
munafik, dan dia nggak perlu belajar jujur pada hatinya. Karena…, aku lebih
ingin dia yang bantu aku sembunyikan hatiku. Juga karena…aku ingin bisa
menjadi hatinya…, dan bisa ungkapkan apa yang dia nggak pernah bisa ungkapkan
pada orang lain. Karena dengan begini, kami sudah menjadi saling melengkapi dan
membutuhkan…, iya kan, Manda……