One Sidely Love and Full-hearted Chicken Coward’s Poem (about nindy again)

March 31st, 2008 by daimasu

One Sidely Love and Full-hearted Chicken Coward’s Poem

when i take flasback to the past
there is no reason for me to fall in love with dhiny continously. ..
one sidely love
just passive love… .
can i call it love..?

it was like i’m in "love’s magic’s effect"
and i’m the one that totally beaten with that effect.. .
everyday, everytime, everywhere i go. .
always full of memory about dhiny. .in my head
i always thinking about her…
i always do like this,, like i wasn’t neither have anything to do nor anybody to talk to..
just thinking and dreaming of dhiny. ..
full of the day. .dhiny is always be my inspiration in every step that i take..

I still don’t understand,, why.. why i can hold my possition just stuck in the moment like this…Is it because i think that she is my very first true love. ..? It’s pathetic.. that my first true love is never notice me…

Deep down in my heart… ..I really needed her most,,But there is nothing can i do to confess my love.. “I don’t believe in word but proof..  ..” With that motto.. I always facing of my poor destiny,, Just admiring without being loved..

Maybe the last word .”without being loved”. ..I can’t say for sure. Because I never confess my love to dhiny,,I wish that the miracle is still exist.. So I still can wish that dhiny is loving me too. ..But this is about my heart “chicken coward’s full hearted” feeling,, I’m the man have no courage to confess my love. .

I always just can feel one sidely passive love. ..I think this one sidedly passive love more better than sincere loyal love…Without being hurt when the day when she went away come…

Sometimes I feel like dhiny care of me too… ..but,, It was too hurt when dhiny went away from me..WITH NO NOTIFICATION. ..!!! It was too hurt. ..Because …my love to dhiny is in higher level than one sidedly neither passive love nor sincere loyal love..
Am I selfish to ask for this..? why. .. dhiny never notice me … ..Obviously,, “dhiny is never loving me” will be the right answer…there is the reason I will never confess my love to dhiny.. because I know,, the answer is definetely NO.. .!,,the word “NO” will be the Ultimate Weapon that can make me so desperately in love

Under that circumstance ….I have must more consistent…. “love is not a matter of take and give, but love is a matter of giving without taking anything” that motto always be my top priority. .not like I always thinking till now….giving but.. hope that dhiny will giving me something too. ..this life is reality not just fantasy. ..

My friend said “forget her,, take a look for another girl, !” Because my friend always watching me ..Knowing which way that i took to love dhiny..He is also challenge me to confess my love to her…But I always lose my challenge….the main point is..I have no courage…Maybe my great courage that I still have till now is…Meet her directly. ..It’s not look like my another love.. ..When i facing someone that i love i just can run , run,, and run. ..

I have no regret to love her. ..although just one sidely passive love…it doesn’t matter Because when i meet dhiny directly. . i always can see her purely smile,,Smile that can always blast the hesitancy mist that always totally covered me. ,,Smile that can always give me power recharge..Smile that can always make me think that life is always beautiful..I don’t care about the fake smile,,There is no word,, “love in vain”. .. when she isn’t loving me too….Just her smile,, it was more than anything.. .

“Hold my princess’ smile. ..to last longer..!”
That is just my last wish i want to be granted….

In The Gentle Rainy Day.. .

March 19th, 2008 by daimasu

Rain goes heavily,,

The road is doubted by mist

Minds being scattered in confusion

Everything is useless in that situation.

 

Our footsteps being so hard everytime we try
to keep walking,,

walking with no direction

just following our shelfish heart..

 

It will be just one thing can make us stand
firm to be able to blast that mist

The light on your darkness

The word on your lonely

The smile on your sad

The song on your glad

It was friend. ..

 

There is nobody in this world never need
friend in their side,,

In life.. .

definetely will find a special friend

someone who changes your life

just by being part of it

 

Someone who makes you laugh

until you can’t stop

Someone who makes you believe

that there really is good in the world

Someone who convince you

that there really is an unlocked door

just waiting for you to open it

this is forever friendship

The true friendship

- just not like the fake friendship,,

that there is an locked door

when there is no faith again in that
friendship..

just closed their heart to forgive their
friend.. because of their selfish.. -

 

When you’re down

and the world seems dark and empty

your forever friends lifts you in spirit

and makes that dark and empty world

suddenly seem bright and full

 

Honest,,

Is the most ultimate weapon in friendship,,

Always be together and always ready to
accompany when friend need you..or you may wind up alone..

we all need encouragement now and then,, so
keep cheering up your friend so your friend will cheer you too.. .

There is not allowed to look for your friend’s
fault,, even if you have none..

 

Talk frequently, communication is important..

verbalize your feeling, don’t keep your
feeling in your own heart..

Wish them luck, hopefully good!

Don’t humiliate them…

get together often, misery loves company, so does
glee

have faith in them, the human animal is
remarkable

know when they need a hug

Love them unconditionally, that is the only
condition

make them feel special,, don’t make them feel
guilty

never forget them,, don’t leave them when they
need you

offer to help,, and know when "no
thanks" is just politeness

don’t be insincere being their friend

praise them honestly and openly,,

give the best opinion,, to make them out of
their trouble..

take action not just advice if you can help
them out. ..

being quietly disagree, noisy No’s make
enemies. .

really listen, when your friend talk to you. .

don’t be shy to say "I’m sorry"

 

Dont be shy to say "I’m sorry"
(maybe the hardest thing to do.. .

 

but it is like the obligation to say,, to
discern the different between good and evil (also understanding your friend’s
darkmode..)

 

I believe…

as long as they are around,,

you are not alone,,

 

make your heart shining so brightly,, like the
star’s shine.. .

be shifting focus to shining brighly,,

with that spirit..

The friendship’s spirit

it will make you invincible.. with friend in
your side.. .

 

 

 

 

 

 

- Demasu.

One Last Wish ( Just one of my short stories about Nindy )

February 7th, 2008 by daimasu

"Aku bukan manusia lagi. Aku telah mati…sejak bertemu dengan satu gadis itu dulu…", kata itu selalu menjadi alarm hatiku yang membangunkanku tiap pagi. Huh, sangat membosankan. tiap pagi selalu saja bangun dalam keadaan yang tak pernah prima. Seolah, setengah tenagaku sudah kandas begitu saja entah ke mana.

Memang, mau tidak mau aku harus mempercayai kata-kata itu. Sejak tak lagi bertemu dengannya, aku seolah kehilangan mayoritas seleraku. Bahkan uang sekalipun tak lagi kuinginkan di dunia ini. Lalu, apa hal terakhir yang kuinginkan di dunia ini…?

Aku hanya bisa terus saja menulis puisi. Dan terus saja namanya terlukis begitu saja di setiap coretan ayatnya. Kenapa…? Kenapa seperti ini…? AKu ingin hidup seperti biasa lagi, tanpa ada kenangan tentang dia, tanpa ada senyumannya membekas di setiap mimpiku. Tapi, kenapa tetap saja…segala hal tentang dia menjadi satu hal yang hatiku sekalipun tak pernah mau rela melepasnya, sekalipun itu terasa sangat sakit untukku…?

Lagi, lagi, aku pun keluar rumah, naik sepeda motor dan berkelana mondar-mandir ke mana-mana tanpa arah dan tujuan. Dan lagi-lagi, terus saja pikiranku mengunciku untuk melewati jalan raya di depan sawah dekat rumahnya. Payah…, aku hanyalah seorang pecundang tak berharga, yang bahkan untuk bertatapan muka saja tak pernah punya nyali. Tak lagi punya tekad membara hanya setelah lihat dia sudah memiliki pasangan…, huh……

Dan tak terasa aku sampai di jalan yang dikelilingi tebing. Tanpa sadar aku naik sepeda motor dan naik gunung yang dihujani dinginnya air yang semakin membawaku ke keunguan hatiku. Huh biarlah, tersesat juga tidak masalah, matipun juga tak masalah bagiku… Toh…, aku sudah lama mati sejak berpisah dengannya.

Dan entah kenapa, tiba-tiba seorang pengendara cewek sepeda motornya selip akibat licinnya aspal oleh karena terjangan hujan lebat. Sesaat dia semakin miring ke samping kiri dan hendak jatuh ke tebing. Dan pada saat yang bersamaan, ada satu hal pada cewek itu yang membuatku teringat pada "sesuatu". Rambut pendek cewek itu yang sangat khas…, potongan bob Jepang yang semakin pendek ke belakang……

Di luar batas pemikiranku, entah kenapa begitu saja tangan kananku memutar erat-erat dan begitu saja tancap gas. AKu pun menengahi cewek itu, berada tepat beberapa senti sebelum jurang di sisi kiriku, dan beberapa senti di sisi kanan adalah cewek itu. Dan seperti dugaanku, cewek itu terus saja selip ke kiri dan menyenggol kendaraanku. Duag!! Sraaakk….

Cewek itu jatuh terseret ke sisi kanan. Akhirnya…, dia tidak jadi masuk jurang. Namun, di sisi lain aku juga sadar bahwa aku sudah keluar jalur dan mulai terjerembab ke jurang menggantikan cewek itu. Sesaat aku menoleh ke cewek itu. Cewek itu pun juga sempat menoleh ke arahku dengan terpana membeku.

Cewek itu……"dia"……? Ya…, sepertinya aku mulai tahu kenapa hatiku begitu saja mengontrolku untuk menggantikan cewek itu untuk jatuh. Karena cewek itu…adalah dia yang selalu ingin kutemui…… AKu pun sempat melemparkan senyum lega dan bahagiaku ke dia. Itu menjadi senyuman pertama dan terakhir yang sanggup kulemparkan ke dia. Namun, aku tak pernah menyesal…, karena pada akhirnya aku sanggup memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga dari segala cinta yang diberikan pasangan cewek itu…, "waktu tambahan…untuk cewek itu bisa merasakan hidup, juga cinta lebih lama lagi dengan pasangannya.

Brugg… Sraaaaaaakkkk……!! Semuanya pun menjadi gelap begitu saja. Dan saat terbangun, terlihat begitu saja seorang pria bersayap hitam kelelawar duduk di sampingku. Dia terlihat tersenyum remeh dan mengejek padaku.

"Memalukan sekali, phmhmhm……" dia pun sempat tak sanggup menahan tawanya yang ditahan. "Sori, aku benar-benar tak sanggup lagi menahan tawaku. Soalnya…, baru kali ini ada manusia terbodoh dari yang terbodoh…yang rela masuk jurang gara-gara menggantikan takdir orang yang sama sekali tak dikenalnya, phmhmhm……"
"Tidak, aku mengenalnya kok…" sanggahku.
"Lalu siapa cewek itu…?" tanya remeh pria itu.
"Dia Nindy Widyasari, yang sangat aku cintai dia teman dari mantan pacarku dulu…" jawabku.
"Bener kamu tidak salah orang…?" tanya pria itu lagi sambil menahan tawanya lagi. "Dari mana kamu tahu kalau dia Nindy yang kamu kenal?"
"AKu sangat kenal wajah, bentuk rambut, juga ekspresinya saat sedang sendiri…" jawabku sambil merenung. "Dan semuanya sangat mirip dengan ekspresinya waktu aku kenal pertama dengannya dulu, juga ekspresinya begitu polos dan memberi semangat sama seperti ketika dulu memberiku semangat kembali saat nonton event jepang…"
"Mirip bukan berarti sama kan…?" ucap pria itu lagi, lalu sesaat mencoba menghilangkan tawanya dan mulai tersenyum serius. "Jadi, sudah siap ikut aku ke neraka…?"
"……" aku hanya menganggukkan kepala tanpa beban sedikitpun.
"Kamu tidak tanya dulu apa kesalahan fatalmu…?" tanyanya mengingatkanku.
"Tidak perlu…" jawabku. "Cukup hukum saja aku seperti apa saja kesalahan yang kuperbuat……"
"……" pria itu terlihat menyilangkan tangannya di depan dada sambil menyipitkan mata. "Kamu orang yang tidak seru ya…, tidak mengasyikkan…"
"……" aku hanya diam saja, tertunduk berpikiran kosong memikirkan sesuatu yang aku sendiri yang jelas pastinya.
"Ya sudah, cepat pergi sana……" ucap pria itu tiba-tiba mengusirku dengan mata menyipit kesal.
"Hmm……?" aku pun hanya mengerutkan kening dengan bingung.
"Kalau orang sepertimu masuk nerakaku, aku bisa kehilangan selera ‘bermain’ selama bertahun-tahun nantinya…" lanjutnya.
"Maksud Anda……?" tanyaku dengan bingung.
"Pergi ke manapun kamu suka, pokoknya jangan ke nerakaku, titik……" perjelasnya lagi sambil serentak pergi meninggalkanku. "Oh ya, aku boleh tanya satu hal sebelumnya…?"
"Apa…?" tanyaku spontan.
"Andaikan kamu bisa hidup lagi, apa satu permintaan terakhirmu…?" tanyanya sambil menoleh sejenak padaku.

Aku pun mulai berpikir lagi. Tidak ada…, memang dari dulu aku tidak punya keinginan terakhir. Aku tidak pernah tahu apa keinginan terakhirku. Namun, sesaat terlintas begitu saja di benakku tentang suatu ekspresi yang sangat anggun dan polos.

"Menjadi pasangan hidup cewek itu……" ucapku begitu saja sambil terus merenung dengan pandangan kosong, lalu mulai tersenyum remeh. "Tapi itu satu hal yang paling mustahil untukku. Toh aku sudah mati, tidak perlu pikiran macam itu lagi…"
"Huh, masih saja keinginan terakhirnya sama membosankannya dengan orangnya…" ucap pria bersayap itu sambil berjalan lagi pergi meninggalkanku. "Dasar, manusia tolol manusia tolol……"

Sratt……, tiba-tiba begitu saja pandanganku menjadi hitam lagi. Dan bersamaan dengan itu, ada sesuatu yang terasa hangat di atas bibirku. Cahaya mulai memaksa masuk ke dalam kelopak mataku. Aku pun membuka mata.
Eh……? Tampak di atasku seraut wajah yang pernah kukenal di masa lalu. Dan bibirnya begitu saja menempel di bibirku serentak tangan kanannya membelai rambutku yang sudah memanjang menjadi sebahu.

"Kamu……?" ucapku sambil terpana membeku memandangnya.
"Eh……?!" dia sempat melonjak kaget ke belakang dengan wajah meronanya yang mutlak. "Kamu…sudah sadar…..?!"

Sesaat aku menoleh ke kalender di samping kananku. 2 Oktober 2016, 8 tahun sudah berlalu begitu saja…?

"Aku……" aku hanya mematung melihat kalender itu dengan heran.
"Kamu koma selama 8 tahun setelah jatuh dari tebing…" jawab cewek itu, seolah dia tahu isyarat mataku yang memandang ke kalender itu. "AKu sangat senang menyadari bahwa kamu selamat dari kecelakaan maut itu…"
"……" aku kembali menoleh ke cewek itu dan mencoba mengingat siapa cewek itu.

Rambutnya hitam kecoklatan panjang sebahu. Bentuk mata sipit itu, ekspresi mata itu…… Lalu senyum khas itu……

"Kamu……" ucapku sambil mencoba menebak-nebak. "Kamu Nindy Widyasari ya……?"
"……" cewek itu terlihat terpana sejenak, lalu tersenyum sambil mengerutkan kening. "Bukan…"
"Heh, bukan……?" ucapku bingung, lalu aku bersikeras. "Aku yakin kamu Nindy Widyasari, pasti… Ekspresi mata itu, bentuk mata itu, senyuman khas itu…, aku sangat kenal semuanya…"
"Lina Erika…" ucapnya sambil menyipitkan mata. "Tidak sopan lho mengganti nama orang seenaknya……"
"M…masak……?" aku kembali bingung.

Sesaat, aku kembali ingat perkataan pria bersayap hitam kelelawar di mimpi tadi,  "Mirip bukan berarti sama kan…?". Jadi benar kata pria itu…, aku menyelamatkan dan menggantikan takdir orang yang sama sekali tidak kukenal…? Tapi, bagaimana bisa ada cewek yang wajahnya sama persis dengan Nindy, juga setiap ekspresinya…?

"Kenapa cewek sepertimu ada di pegunungan saat hujan deras begitu…?" tanyaku begitu saja dengan pandangan kosong memandang ke depan. "Tidak seharusnya kan ada cewek melintasi jalan pegunungan yang curam itu, apalagi saat hujan lebat…"
"Itu……" dia terlihat merenung sejenak dengan sayu. "Aku mau menjenguk bibiku yang tinggal di pegunungan, karena sedang sakit, dan juga paman baru kerja luar kota. Rencananya aku ke sana menemani beliau hingga paman datang… Tapi, aku sungguh tidak menyangka gara-gara nekat tetap ke sana saat hujan lebat, maka aku harus membuat seseorang…… Maaf ya…, aku sungguh minta maaf……"
"Tidak masalah kok…, tidak perlu minta maaf…" ucapku sambil menunduk dan tetap berpandangan kosong, dan aku mulai ngomong begitu saja kehilangan kendali. "Menantang maut sudah biasa bagiku… Lagipula…, toh aku sudah tidak memiliki selera lagi di dunia itu. Jadi lebih baik jika waktuku…aku gantikan saja ke waktu orang lain yang hampir habis…"
"……" cewek itu hanya memandangku dengan sayu dan iba. "Anu…, boleh tahu namamu…"
"Radit,,Radit Hananta…" jawabku, lalu sesaat aku menoleh ke dia dengan bingung. "Memangnya kenapa tanya namaku…?"
"Tidak kenapa-napa kok…, cuma ingin tahu saja…" jawabnya sambil tersenyum hangat. "Lagipula, toh tadi kamu sudah tahu namaku, jadi tidak impas kalau aku tidak tahu namamu…"
"Oh…" aku kembali menunduk, lalu mencoba turun dari ranjang.
"Eh, jangan…!" larang cewek itu.
"Aduh…!" aku langsung begitu saja jatuh.
Bragg…! Terasa kakiku sama sekali tak ada niat untuk berjalan lagi. Jadi…, aku…
"Tidak seperti yang kamu kira kok…" ucapnya sambil membantuku bangun dan mendudukkanku lagi di ranjang dengan tersenyum seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan. "Tidak permanen…"
"……?" aku menoleh ke dia dengan bingung.
"Itu pula alasan kenapa aku di sini…" lanjutnya dengan tersenyum hangat. "Untuk membantumu berjalan sedikit demi sedikit…"
"Kalau begitu terima kasih banyak ya…" ucapku sambil tersenyum senang padanya.
"Selain itu karena…" tambahnya lagi, namun sesaat dihentikannya sendiri dengan sengaja, dengan wajah tertunduk segan.
"Karena apa…?" tanyaku spontan.
"Mmm…, anu……" dia terlihat mulai memandangku dengan tetap tertunduk, dengan ekspresi segan bercampur wajah yang mulai merona. "Radit…, apa aku boleh jadi sesuatu……?"
"Maksudmu…?" tanyaku bingung. "Jadi yang membantuku berdiri maksudmu…?"
"Bukan…" sanggahnya dengan wajah tetap merona misterius.
"Lalu…?" tanyaku lagi dengan bingung.
"……" dia terlihat diam sejenak dengan wajah merona tertunduk yang misterius, lalu mulai bicara. "Ini sudah 8 tahun berlalu kan…?"
"Iya, terus…?" tanyaku lagi ingin tahu apa yang ingin dikatakannya.
"……" dia kembali diam lagi dengan wajah merona tertunduk yang misterius, lalu kembali bicara lagi. "Selama 8 tahun ini aku terus menungguimu, dan belum sempat cari……pasangan………"

Aku pun mulai ikut diam dengan terpaku membeku memandangnya. Sepertinya, aku mulai tahu apa yang ingin dikatakannya. Tapi, masak……?

"Aku……" dia mulai bicara lagi, namun kali ini terasa seolah jauh lebih berat untuk diungkapkan dari sebelumnya. "Apa aku boleh menikah denganmu…dan menjadi istrimu……?"
"Eh……?" aku hanya melongo bingung bercampur heran bercampur setengah tidak percaya mendengar itu.
"Selain karena aku belum sempat cari pasangan, juga karena aku rasa kamu cowok baik…" lanjutnya sambil tersenyum sungkan dengan wajah merona. "Karena, cowok yang melakukan tindakan bodoh, apalagi mempertaruhkan nyawanya sendiri, hanya cowok baik hingga ke lubuk hatinya saja yang bisa……"

Satu kata itu membuatku ikut merona mutlak. Aku pun tenggelam ke fase diam untuk beberapa saat, hanya terpaku memandanginya dengan merona mutlak.

"Bolehkah…?" tanyanya lagi sambil tersenyum sungkan dan merona.
"………" aku diam untuk beberapa saat dengan wajah merona, lalu hatiku begitu saja menyuruhku lagi untuk mengangguk.

Dia pun terlihat tersenyum sangat senang mendengarnya, lalu memelukku di atas ranjang. Terasa degupannya berdebar kencang, namun auranya terasa sangat riang dan bahagia. Tak terasa kedua tanganku pun mulai balas mendekap punggungnya dengan erat.

Satu keinginan terakhir kah……? Meski sasarannya meleset, tapi cewek ini tidak jauh beda, bahkan lebih baik dan lebih paham tentang seperti apa aku. Seolah, aku memperoleh "Nindy versi malaikat".

"Oh ya boleh tanya…?" ucapku sambil tetap dalam posisi memeluknya erat.
"Tanya apa…?" tanyanya spontan.
"Apa kamu hari ini ulang tahun, 2 Oktober 2016…?" tanyaku.
"Eh……?" dia spontan menjauhkan kepalanya untuk memandangku dengan terpana heran. "Kok kamu tahu……?"
"Tidak, cuma asal nebak kok…" jawabku sambil tersenyum. "Dulu ada temanku yang ulang tahunnya juga hari ini…"
"Cewek yang namanya kamu pakaikan ke aku tadi, Nindy Widyasarii…?" tebaknya dengan tersenyum.
"Ehm…" jawabku sambil mengangguk. "Sudah, tidak perlu pikirkan cewek itu. Sekarang yang perlu dipikirkan adalah…, apa hadiah yang bisa kuberikan untukmu saat ini…"
"Tidak perlu, toh kamu masih belum stabil bbegini kondisinya…" ucapnya sambil tersenyum.
"……" sesaat aku melihat ke sesuatu di wajahnya yang membuatku mendapat jawaban tentang hadiahnya. "Oh ya Lina……"
"Hmm…?" tanyanya spontan sambil memandangku dengan polos.
"Diam sejenak ya, jangan bergerak dulu…" pintaku.
"Ada ap…pa……memangnya………" dia terlihat mematung memandangku dengan wajah mulai merona kembali, seolah tahu apa yang aku maksud.

Sekali lagi, terasa hangat. Terasa hangat saat bibirku mulai menyentuh bibirnya yang lembut dan tipis itu. Namun, kehangatan yang terasa entah kenapa jauh lebih menenangkan hati. Aku rasa karena kali ini aku menciumnya bukan sebagai "orang asing yang kuselamatkan begitu saja". Melainkan karena aku menciumnya sebagai…pasanganku, baik sekarang hingga kelak nanti.

Dan aku pun mulai sadar apa sesungguhnya satu keinginan terakhirku. Bukan "untuk menjadi pasangan Nindy Widyasari", melainkan……, "untuk memiliki pasangan yang sangat memahami dan menyayangiku sepenuh hatinya……". Terima kasih…… Terima kasih banyak……, oleh sebab satu keinginan terakhirku sanggup terkabulkan tanpa berakhir sia-sia……

THE END

The day when i feel so definetely strong

December 8th, 2007 by daimasu

The day when i feel so definetely strong

in the day when i’am alone. ..
nothing just can i do.
it’s likely stuck in the moment
i feel so confuse in that moment
moment that always remind me of her
i think the one thing that i always can do…
just staring at the sky.
i can imagine what i want to imagine
i know i’m very need time on my own. .
the time that no one can disturb me. .
no one. .
so i can imagine that my wish can be granted
the wish to be with her all of the day
together on my own. .

i never thought i’d need her there when i’m alone missing for her smile. ..
just her smile. .
because with that smile,, always can make me feel so strong. .and charm..
i can say for sure. .
that i unconscious love her. .
I love all the things on her,,

i count the step that i take.
i know it’s the time for me
to realize what i always dreaming on her
to make her on my side, ,although just many hour ..
just many hour that can make me so freely look her smile. .
her cold gaze. ..
smeel her parfum. .
that totally so close, just in my side..

huh, , it will be the day that can make me feel so definetely strong ..
i know no defeat,, with her smile in my side ..
i’m not need to cry again. ..

yesterday. .
maybe,, to be the day when i feel so definetely strong
the day that can make me spend all of the time, ,together just with her…
i observe on herself..

black straigh-short hair. .
combed so neat. .
it can shine so brightly
with grey simple t-shirt
red’s flame jacket
blue tight rumpled jeans. ..
with the black absolute sandals..
all of it really fits on her.
she look like a japanese doll
so cute ….
one word just can i say in my heart. .
i’m officially want to embrace her on my shoulder..
so tight..i dont want to lose the woman that i love so sincere anymore. .
but in that time i just can satisfied just can look her smile
so purely. .right targeted on my heart. .

I’ve never felt this way before
beeing together with the woman that i love so close. .although she never notice my feeling for her
maybe just with one word “friend” i can so freely realize one of my wish that i always pray. ..even this word can hurt me so deep …
i want more from her. .
beeing together and share my problem and her problem all of the time
beeing adult together, ,
i’m so happy when i’m beeing accompany by her. .
because beeing together is better than alone. …
beeing together can break all of the lonely mist that always covered me. .

maybe, , until this day come
i’ve never can say my true feeling for her
i want more just to be her friend. .
i want to be somothing special to her. ..
but in it’s way. . i can’t do anything. ..
because love is pure. .
there is no pressure to accept or reject…
nobody’s can’t to determine someone’s love.. .

maybe the best way that can i do now is .
waiting and waiting. ..
i always know that waiting is suck, ,,
but if i waiting for her.. i can ignore all of consecuen.. that i must have to drawed
when i’m waiting for her, ,and then she notice and coming to me. .
it will be the best day when i feel so definetely strong. …

yesterday,,
is the first time,, i hang out with her..
maybe the second,, but i ignore the first time ..
because in that true first time,, i’m not feel love to her yet. .
purely just friend,, there is no mask plotted in my face
but the first time,, give me big influence. .how to i love her ..
she teach me how to love so sincere and tenderly

i grab her hand. .. walking inside me ..
feel so warm in this heart. . this feeling show me. .
the real feeling why when one of your wish granted, ,,
i can say for sure now, ,
this togetherness, ,, give me super power that can make my life more lifely. .
although i have never talk too close to her …and this is the first time ..
her voice was alot softer than i could imagine
when i talk to her,, i believe that i’ve share my problem in the right person. …
even she is just be the listener,, that can never give her idea to solve my problem,,,
but in the time when with her in my side, , i feel so confidence that i can fix my problem myself…
just with her support behind me. ..i swear i’ll be so invincible ,there is no problen can defeat me again and again, ,,
just with her in a few hour ,, my problem can blurred
so i can make an analogy, , beeing together with her in my side in much time,, maybe my problem can be forgotten..
and beeing together with her all of lifetime i have,, maybe there is no more problem facing me…
the time when the problem come,, in that time too i can fix it so easily ..
huh. ..

thanks ,, you are my inspiration, my power recharge, my adoration, my love ,, you mean everything to me……
aishiteru…….zutto,,zutto aishiteru… …

Andai Ia Tahu… .

November 9th, 2007 by daimasu

huh,, sampai sekarangpun ternyata ku masih harus terus berjuang melawan suara hatiku sendiri,, ,mungkin inilah alasan “why beeing consistent is hard” sampai sekarangpun aku tak bisa memahami rasa di dalam hati ini. Kadang sangat sakit, terasa sangat sepi, tetapi sering juga merasakan arti kebahagiaan yang lebih mutlak berada di tingkat teratas dari semuanya. .yah walaupun memang selalu sendiri. Mungkin memang inilah takdir yang mesti aku jalani, ,

Namun sungguh sering ku berpikir aku ingin sekali bisa ditemani, meski hanya dengan adanya satu seorang,hanya dir inya seorang bila itu bisa menjadi kenyataan , , karena memang berdua lebih baik bukan daripada seorang diri Dan aku akan selalu tahu…kalau aku akan selalu tak pernah sendiri lagi……

En tah kenapa sampai sekarangpun, ,aku hanya percaya “dia” seorang yang selalu bisa bikin aku hidup kembali dari berkali-kali kematianku, karena itu sampai kapanpun aku akan menunggu untuk kapanpun, meski kadang aku tidak yakin bisa bertahan hidup engan kepalsuan hatiku kepada”nya”.

Namun, aku takut. Aku sungguh takut bersama. Karena dengan bersama, maka “dia” akan terus ’sakit’ karenaku, di saat nanti “dia” coba cari tahu ’siapa
aku yang asli’. Aku sangat takut “dia” tak akan bisa menerimaku, juga segala kerapuhank u… Segala beban hatiku…, segala rahasia yang terus kupendam hingga sekarang…, juga……tentang segala kelemahanku… Yah.. . mungkin karena hal itulah yang selama ini membuatku terus “improve” membentuk diri ini, menjdi lebih
konsisten dan “dewasa” dengan memperbaiki semua kelemahanku, sehingga bila nanti tiba saatnya untuk membacakan isi hatiku kepada”nya” aku lebih siap diri. ..

Dan untuk sekarang inipun sebenarnya dalam setiap hal yang aku lakukan untuk “dia” selalu aku konsisten yang tulus hanya sekedar membalas budi untuk terus melayaninya tanpa mengharapkan apapun dari dirinya, ,tapi tetap saja aku hanya ingin dirinya tahu, , bahwa cinta bukanlah sekedar kata-kata manis yang bisa dibacakan di depannya, tapi lebih ke perbuatan yang rela melakukan apapun untuk menunjukkan rasa cinta kita,
karena cinta tak bisa bohong menurutku, meski kini ku hanya tinggal setengah
tenaga yang tersisa yang setengahnya lagi telah “dia” renggut saat aku, , saat aku sadar aku mencintai “dia”.

Aku tidak peduli apa kata orang apa kata “dirinya” tentang diriku yang seperti ini, yang pasti aku mencoba membuktik an sebuah cinta yang murni dan abadi itu benar-benar ada,, yaitu cintaku kepada “dia” dan benar-benar bisa kubawa tidak hanya sampai mati, tapi sampai ku bertemu “dirinya” lagi di dunia BAPA… Andai saja……, ini bisa ubacakan di hati”nya”.. kenap a aku tidak bisa berkata jujur kepada”nya” ya. . hanya sekedar menyataka n cinta .. T-T

yah mungkin juga karena perasaan yang sudah terlanjur pesimis, dia itu orang yang terlalu baik untuk diriku yang penuh celah kelemahan seperti ini, yang pasti diriku akan dengan mudahnya ditolak y. . hehehehe ya itulah, , “Perasaan yang pesimis” karena aku tak mau ketika hal itu terjadi akan membuatku menjadi jauh dari”nya”, sungguh suatu hal yang sangat aku takutkan bila terjadi aku akan sangat kehilangan seseorang yang berjasa membentuk diriku yang selama ini,member iku semangat, memberiku inspira si,sungguh aku takut kehilangan semuan ya, yah walaupun bila “dia” punya perasaan yang sama kan lebih baik adanya. .tapi,

sungguh sebenernya ku ingin mengatakan ini kepada hatinya, bila ada suatu sample pasti aku coba duluan tapi ini hidup adalah kenyataan yang terus bergulir tidak akan ada kata “restore” atau “playback” yang ada hanyalah terjadi tak bisa diulang lagi..itulah hidu p ini ..andai aku bisa membaca hatinya, Andai Ia Tahu….

Besa rnya cintaku yang aku simpan untuk”nya” selalu menjadi souvenir yang paling berharga dalam hidupku..terima kasih

dhiny-san

October 8th, 2007 by daimasu

Dhiny-san……

Dhiny-san…… Entah kenapa setiap memikirkannya aku selalu saja terus berpikiran positif padanya, meski aku tahu dia tidak sepositif yang ada di pikiranku. Aku tahu dia penuh misteri. Kadang dia terlihat sangat anggun, manis, pendiam, agak tertutup. Dan di saat lain aku melihat dia hanyalah seorang gadis biasa yang tidak seideal itu. Dan aku pun tahu……keanggunannya itu hanyalah sebuah kedok misterius, persis sepertiku. Saat aku tertawa meski hati tidak ingin tertawa, saat aku terus ikuti kemauan teman, meski sebenarnya aku banyak kerjaan ataupun tidak mau, saat aku pura2 senyum pada orang yang menyapaku, meski sesungguhnya orang itu adalah orang yang kubenci. Semua sama. Pada akhirnya, aku tak pernah menyadari kalau aku mencintai orang yang sifatnya mirip denganku. Aku tak pernah menyadari…kalau aku yang selalu palsu pada hatiku…mencintai dia yang selalu palsu pada hatinya. Hmm, senang sekali bertemu seseorang yang selalu disebut dengan "Soulmate"…

Dhiny-san…terkadang memantulkan aura melankolis yang sama sepertiku. Rasa kesepian, rasa sangat ingin sesekali dimengerti dan dipahami hatinya, rasa sangat ingin untuk dilindungi, juga rasa ingin terus ditemani oleh orang yang dicintai. Setiap kali memikirkan Dhiny, selalu saja terlintas wajah merenungnya. Pada akhirnya, sampai kapanpun aku selalu berpikiran positif padanya (TT_TT). Karena iba dengan kesamaan hatinya, kesamaan aura, aku pun selalu berharap bisa di sisinya, paling tidak memandangnya setiap hari, sesering mungkin. Tanpa sadar, aku sudah memiliki perasaan yang sudah terlanjur abadi di hati, yang mau tidak mau akan kubawa terus sampai di rumah BAPA nanti. Karena aku tidak mau berpikir bahwa cinta berakhir saat hidup berakhir. Aku ingin cinta ini tetap hidup, bahkan sampai setelah selesainya kehidupan nanti. Aku tidak yakin bisa hapus rasa ini, aku juga tidak mau menghapus rasa ini. AKu ingin menyimpan perasaan ini, karena Dhiny adalah satu gadis yang pernah membuatku benar-benar depresi dan menangis dengan sangat sakit. Juga, sebagai tanda bahwa aku sangat menghormatinya sebagai orang yang selalu kucintai, juga sebagai "soulmate"ku yang sangat berharga.  Yang selalu aku berusaha membuat dirinya senang.

Andai bisa, aku ingin bersamanya saling mendewasakan diri, aku ingin pahami hatinya yang sering terselubung. Namun, takdir tidak sesimpel itu, bukan…(^_^). Kelak, saat dhiny kehilangan setiap orang yang dicintai ataupun yang mencintainya, saat dhiny tidak lagi dikenal siapapun, maka dia akan masih punya aku sebagai orang yang selalu ada untuknya. Kapanpun, di dunia setelah ini pun, aku akan selalu ada, karena aku sudah berjanji akan menyimpan perasaan ini. Karena aku sudah terlanjur tidak bisa menghapus perasaan ini. Huh…, hati yang terbelah 2… AKu tidak tahu kelak nanti jika kutemukan orang yang sungguh2 mencintaiku. Di saat nanti aku mulai mencintainya, aku ragu apakah dia akan mampu menerima hatiku yang terbelah 2 ini, bukan karena aku ingin bersikap playboy, melainkan karena aku tidak bisa menghapus ataupun mengambil balik pecahan hatiku yang sudah terlanjur terbawa dhiny-san. Hmm, tapi, aku akan tetap mencintainya dengan sisa hatiku, sepenuh rona hatiku yang tersisa. Dan biarlah perasaanku pada dhiny-san ini…menjadi souvenir untuk masa berikutnya, juga berikutnya lagi. dhiny-san, terima kasih banyak…(^_^). walaupun mungkin hanyalah cinta yang sebelah tangan … yang akan kujaga akan tetap abadi.

Dan karena hal ini pun aku jadi paham, bahwa cinta bukan hal yang bisa ditentukan oleh aturan2 dunia. Entah mau monogami atau poligami, semua itu tergantung hati masing2. jika memang sudah terlanjur terbagi 2 dan tidak bisa dihapus lagi, maka memang lebih baik disimpan, daripada harus palsu pada hati sendiri dan mengatakan "Aku sudah melupakannya", tapi pada akhirnya malah kena dampak fatal dari hati yang sesungguhnya, rasa sakit saat melihat sosok orang itu sekali lagi. jika memang keduanya bisa diraih, maka itu baik adanya. Tapi jika hanya bisa satu, maka biarlah pecahan lainnya tersimpan sebagai kenang2an, bahwa selalu ada perasaan mendalam pada orang itu.

Dan cinta…bukanlah hal yang bisa ditentukan, bahkan oleh agama2 yang bahkan BAPA sendiri yang mengajarkan. Agama hanya sebagai pedoman dan penunjuk jalan supaya mampu mencerna seperti apa cinta yang selayaknya.Cinta sendiri…adalah perasaan murni dari manusia. Bisa diambil perumpamaan seperti ini, "Seorang bapak yang mempunyai kerabat yang sangat banyak memanggil anaknya yang belum menikah untuk menemui beliau. Dan dipanggillah kerabat2 bapak itu untuk berkumpul membawa anak perempuan mereka yang juga belum berjodoh. Dan si anak pun dipersilahkan sang bapak untuk memilih siapa yang benar2 dicintai, tentunya setelah berbincang2 dan mengalami masa2 yang tak terlupakan selama mencoba mengenal perempuan satu dengan yang lainnya. Dan jika saatnya tiba, maka si anak akan diberi kebebasan utuh untuk mencintai, dengan menjanjikan pertanggungjawaban bahwa si anak akan mencintai siapapun itu, sebanyak apapun perempuan itu semurni yang hati si anak berkenan untuk cintai.".

Sekarang ini, hanya kalimat inilah yang akan terus membawaku maju. "Cinta adalah abadi, cinta adalah kebebasan tak terikat oleh apapun hal dunia, apapun aturan dunia. Karena cinta adalah hal yang paling tidak bisa diatur ke sana kemari oleh siapapun, oleh apapun. Biarlah Cupid memanahmu dengan panah asmaranya. Biarlah BAPA membimbingmu tuk bertemu dengan dia yang akan kamu cintai. Dan jika cinta pun bersemi, maka cintailah orang itu sebebas apa yang hatimu ingin berikan dan lakukan. Dan dengan begitu BAPA akan merestuimu. Dan jika bisa, bawalah cintamu sampai abadi di surga nanti. Biarlah sekali lagi BAPA menikahkan kalian kembali…sebagai pasangan abadi di surga". Dhiny-san, zutto aishite iru yo

I have finished my PLOT.. .

September 24th, 2007 by daimasu

kupikir hari ini aku telah menyelesaikan plotku walaupun belum tuntas benar mungkin,, , tapi ku yakin semua akan berjalan sesuai pola plot yang telah aku buat, , memang sangat sakit tapi inilah yang seharusnya aku lakukan untuk membuat dirinya senang selama mutlak.. . dalam upaya untuk membalas budi semua yang telah dia lakukan untukku yang sangat berarti walaupun mungkin dirinya tak pernah sadar apa yang telah dia lakukan,, , dia membuatku semangat kembali setelah aku mengalami hal yang sungguh benar2 hancur mungkin dalam diriku ini,, dan aku mulai menyukainya. Tapi kupikir sangat tidak mungkin untuk memilikinya, makanya setelah berpikir keras akhirnya aku telah menemukan perbuatan yang seharusnya aku lakukan untuk menyampaikan rasa balas budiku pada dirinya,  yang telah memberi aku tenaga kembali saat ku merasa lemah.. . satu hal yang harus sebaiknya kulakukan mengkonvert rasa suka untuk memiliki menjadi rasa suka dalam misi pelayanan, , berusaha keras bagaimana untuk membuat dirinya senang sehingga ku dapat membalas budi pada dirinya,, , terkesan konyol memang kenapa tidak mengejar dirinya untuk memilikinya,,  mungkin saat inilah ku harus berusaha untuk menjadi dewasa untuk mencoba mengerti dan lebih introspeksi apalah artinya cinta itu,, ,, semua yang kulakukan selama ini ternyata belum cukup untuk membuat dirinya merasa senang secara mutlak,,

Kemarin akhirnya Tuhan menjawab semua rasa ingin tahuku tersebut,, secara tak sengaja aku mendengar hal yang memang menjadi apa yang diinginkan dirinya,, dan ternyata aku punya peluang untuk mewujudkan hal tersebut.. .kenapa aku tidak menyadari hal tersebut ya.. . dia itu cewek yang sudah dewasa dan membutuhkan cowok,, tapi ku masih bersyukur ternyata cowok itu adalh temanku sendiri sehingga masih ada peluang yang sangat besar untuk mewujudkan hal tersebut.. . memang selama ini sebenarnya ku mencoba merahasiakan hal tersebut,, tapi ku tak sanggup menahan rasa senangku yang puas telah menjalankan misi secara sukses.. 

Kemarin aku telah melihat dirinya dapat tersenyum mutlak,,  dengan cowok yang dia sukai. . dan aku berhasil menghubungkan mereka berdua.. fiuh memang sungguh berat sekali tugas yang aku lakukan ini, , tapi ternyata memang hasilnya sungguh memuaskan, akhirnya aku bisa membalas budiku, ,bisa membuat dirinya senang mutlak, , dapat tertawa lepas tanpa ada hal yang mengganggu di hatinya mungkin,,  sama dengan apa yang dia lakukan pada diriku selama ini.. ..

Mungkin ini akan menjadi hari terakhir bagiku untuk melayaninya lagi, tapi aku akan tetap konsisten akan selalu melayaninya semampu diriku..  . apabila yang timbul masalah kenapa aku selalu sendiri.. . biarlah seorang malaikat hitam sepertiku sepertinya sudah terlalu terbiasa menikmati sendiri,, , toh memang inilah diriku.. . sendiri bagiku adalah jalan hidupku yang harus aku selalu jalani.. ..

Memang cinta itu tak harus memiliki dan butuh pengorbanan,,  ku sudah mengorbankan semua untuk bisa membuatnya senang mutlak seperti itu sungguh suatu barter yang sangat sepadan. toh walaupun aku sakit dia selalu bisa membuatku hidup kembali.. . hehe.. .recharge complete. ..

yah terakhir kalinya aku hanya ingin berkata "Aku sukses, dan aku puas,,  next, , !!"

Julia.. .. .

September 11th, 2007 by daimasu

“Riki, jangan pergi…..”, ucap seorang gadis dengan berlinang air mata sambil memelukku erat.
“Biarkan aku ikut juga ke Jepang bersamamu. Aku tidak mau sendirian di sini…”
“Julia, kamu kan punya banyak teman di sini”, ucapku sambil menjauhkan Julia sedikit dan kemudian menatap matanya dengan tersenyum.
“Aku akan meminta mereka untuk terus bersamamu. Aku janji akan secepatnya menyelesaikan sekolahku di sana, dan aku akan ada di sini lagi bersamamu”

“Namun, secara perlahan dia melepaskan tangannya dari pinggangku dan kemudian menundukkan kepalanya. Sesaat kulihat kesedihan menerpa wajahnya. Julia Ester, apa yang sedang kamu pikirkan?

“Ada apa…….?”, tanyaku dengan khawatir
“Riki……,kamu sudah tidak mencintaiku lagi ya….?”, ucapnya sambil tetap menunduk dengan murung.
“Kenapa kamu bicara seperti itu, Julia?”, ucapku dengan terpana kaget.
“Kamu…..tidak percaya padaku….?
“Waktu….dan jarak….sanggup mengubah segalanya kan, Riki….?”, ucapnya masih dengan kepala tertunduk.
“Di sana….pasti terdapat gadis yang lebih baik dariku, lebih baik untukmu……”
“Julia….”, ucapku dengan sedih dan kacau.

“Kami terdiam beberapa saat karena benar-benar keadaannya kacau, pada diriku, dan mungkin dia. aku bingung tentang bagaimana caranya untuk membuktikan kalau aku tidak mencintai orang lain selain dia. Yap, aku harus mengungkapkan apa yang kurasakan padanya selama ini.

“Julia, kamu ingin tahu seberapa dalam perasaanku?”, ucapku dengan serius memandang Julia.
“Aku tidak akan mengungkapkannya lewat kata-kata, karena kata-kata bisa dimanipulasi. Aku ingin kamu merasakannya, menggunakan perasaanmu”
Julia memandangku tanpa berkata-kata.

“Aku memandang Julia dengan serius kemudian diam sesaat. Dengan perasaan berdebar yang kacau kupegang kedua lengannya. Dia langsung terpana memandangku dengan wajah memerah.

“Kamu…..mau apa…..?”, ucap Julia dengan pandangan terpaku penuh pada mataku. Aku memandangnya serius tanpa berkata-kata
“Riki……..”, ucap Julia dengan terpana dan dengan hati yang berdegup kencang.

“Kudekatkan wajahku, kupejamkan mataku, dan kucium dia. Untuk beberapa saat, beberapa detik, kubiarkan bibirku terus menempel di bibirnya. Lalu kulepas ciumanku secara perlahan sekalian memandangnya dengan segenap perasaanku. Terlihat dia memandang wajahku dengan terpana dan dengan muka merah. Sesaat kemudian mengalir air mata dari pandangannya yang terpana padaku.

“Sedalam inilah perasaanku untukmu.”, ucapku dengan serius memandangnya.
“Hiks….., ehm……..”, Julia terlihat sedih sambil mengusap berkali-kali air matanya yang terus mengalir.
“Maafkan aku ya……telah meragukanmu……” bisiknya.

“Sesaat dia menyandarkan kepala dan menenggelamkan dirinya di dadaku. Kudekap dia, dan kubelai rambut panjangnya yang kecoklat-coklatan dengan lembut. Terdengar di telingaku dia masih terisak-isak, meski pelan.

“Kamu bersedia menunggu untukku, Julia?”, tanyaku sambil tetap memeluk dan membelai rambutnya. “Apakah kamu juga akan melakukan hal yang sama untukku…?” jawab julia
“ Aku janji..!” kataku dengan yakin,
“Riki aku juga janji……..”, ucapnya dengan tegar.

“Setelah itu pun aku antar Julia pulang, karena dari tadi kami belum beranjak dari depan pintu sekolah. Sampai di rumahnya, dan hingga aku akan pulang pun kulihat dia masih memandangku dengan sayu. Aku pun sebenarnya juga tidak rela meninggalkannya, tapi bagaimanapun ini semua juga demi dia. Aku harus sekolah di Jepang untuk mempertajam pengetahuanku dalam membuat komik. Aku harus menjadi komikus yang memiliki cukup penghasilan untuk menghidupinya kelak.

“Keesokan harinya, pagi-pagi aku berangkat dari Solo menuju Jepang naik pesawat. Saat perpisahan di bandara tadi pun dia menangis terisak-isak saat aku akan pergi. Terkadang aku berpikir bahwa ini adalah suatu kesalahan, saat aku meninggalkannya seperti saat ini. 4 jam kemudian aku sampai di Tokyo dan lusanya aku bersekolah di sekolah yang menitikberatkan pada pembuatan komik. Aku mulai masuk dari awal lagi, kelas 1-1 di SMA Shiroibara.

“Di sana kemarin benar-benar membuat kepalaku sedikit berputar, karena itu pertama kalinya aku menerima pelajaran rumit tentang komik, tentang syarat panel yang ideal, latar belakang, perspektif, dll. Hari inipun aku menerima pelajaran yang sama sekaligus diberi tugas membuat komik pendek dengandeadline 2 hari oleh guruku bernama Onizawa Kenshin. Beliau mirip sekali dengan Kenshin Himura di Samurai X. Rambutnya merah kekuning-kuningan dan panjang serta dikucir. Hanya saja sifatnya lebih mirip dengan “Batousai” bukan Kenshin Himura soalnya kalau tidak mengumpulkan tugas meski hanya sekali, dia akan langsung mencantumkan nilai 4 di raport. Setelah pelajaran ini bel istirahat berbunyi. Terdengar dari belakang ada suara gadis yang menyapaku.

“Kamu bisa?”, ucapnya dengan melodis.
“Eh, entahlah, soalnya ini tugas pertamaku”, ucapku sambil menoleh ke belakang dengan kaget.
“Oh……”, ucapnya kemudian tersenyum dan memberikan tangan kanannya untuk berjabatan denganku.
“Kenalkan, nama saya Linda Redblooms, 16 tahun, dari Amerika.
“Oh, saya Riki, Martinus Riki, 17 tahun, dari Indonesia”, ucapku sambil menjabat tangannya dengan tersenyum. “Senang berkenalan denganmu…..”
“Sama-sama”, ucapnya sanbil tersenyum padaku.

“Rambutnya benar-benar khas, sangat mirip dengan Harada Riku di komik DNAngel, bentuk rambut bob dengan sisi belakang lebih pendek dari sisi depan. Malam harinya dia datang ke tempat kosku dengan wajah putus asa. Terlihat bekas air mata yang baru saja diusap di pipinya. Aku sadar bahwa dia benar-benar bingung tentang materi tadi pagi.

“Linda, kenapa….?” ucapku dengan khawatir.
“Apa kamu mau mengajariku tugas pak Onizawa….?”, ucapnya dengan murung.
“Aku sudah minta tolong pada beberapa siswa lain tapi mereka tidak mau. Mereka terlalu sibuk…” . Aku terpaku memandangnya tanpa berkata-kata.
“Kamu mau mengajariku…..?”, ucapnya sambil memandangku dengan wajah murung.
“Kumohon…..”
“Tidak perlu sampai begitu”, ucapku dengan tersenyum. Yuk
“Terima kasih, Riki’ ucapnya dengan wajah gembira.

“Aku mengajarinya hingga larut malam, sekitar jam 10 malam. Walaupun harus pulang larut, tapi dia sangat senang karena tugasnya selesai sekaligus dia menjadi paham tentang materi pak Batousai Onizawa. Kemudian aku mengantarnya pulang ke kosnya.

“Sekali lagi, terima kasih banyak ya, Riki”, ucapnya dengan tersenyum gembira padaku. “Kapan saja aku ada jika kamu perlu bantuan lagi”, ucapku dengan tersenyum padanya. “Terima kasih…..”, ucapnya dengan tersenyum sambil perlahan menundukkan kepalanya.

“Keesokan harinya tugasnya kukumpulkan. Akhirnya aku bisa lega setelah pak “Batousai” memberiku nilai 8,5. Paling tidak, aku masih di atas standar yaitu 8. Namun, berbeda dengan Linda. Saat menoleh ke belakang, dia menutupi matanya dengan tangan kirinya yang sekaligus dijadikannya sebagai penyangga di meja. Terlihat lagi air mata mengalir.

“Linda……” ucapku dengan sedih dan cemas.
“Aku hanya dapat nilai 7, padahal aku sudah berusaha keras….” ucapnya dengan murung sambil tetap menutupi matanya. “Mungkin, aku memang tidak pantas berada di sini. Mungkin seharusnya aku tidak mengambil jurusan ini….”
”Bolehkah aku tahu, untuk apa kamu menjadi komikus?” tanyaku dengan serius.”Aku….hanya ingin mengungkapkan perasaanku……”, ucapnya dengan sedih. Itulah yang mungkin masih kurang dalam komikmu, ucapku dengan tersenyum. Linda terkejut dan memandangku dengan matanya yang masih berair.
Kalau itu tujuanmu, maka kamu harus menempatkan tujuan itu ke dalam komikmu secara utuh, jangan setengah-setengah, kataku dengan tersenyum memandangnya. Kamu ingin mereka ikut merasakan perasaanmu, kan? Kalau begitu, ungkapkan hal itu dalam komikmu, persis seperti apa yang kamu rasakan.

Setelah hari itu, dia menjadi semakin berkembang. Nilainya menjadi semakin baik, bahkan seimbang denganku, 9,4. Dan seiring waktu dia terasa semakin dekat, seperti seorang partner bagiku. Semakin haripun kurasakan semakin jelas bahwa terdapat sesuatu yang mengganjal di hatiku padanya

Hari ini, Sabtu, 14 Agustus 2006, setelah 4 minggu dari hari itu, aku mengantarnya pulang, karena sudah terlalu sore dan angkutan mulai berkurang. Setiap kali dia tersenyum, kurasakan perasaan senang di hatiku saat melihat wajahnya. Kami sampai dan aku mengucapkan salam perpisahan padanya. Namun,dia menyuruhku menunggu sebentar karena ada hal yang ingin dibicarakannya.

“Mau membicarakan apa?” tanyaku.
“Tentang…..kamu……..” ucapnya sambil memandangku dengan serius.
“Aku…..” ucapku bingung.“
“Riki………, maukah kamu menjadikanku…….sebagai pacarmu…….?” ucapnya dengan pandangan yang tulus.
“Aku baru sadar……kalau aku mencintaimu…..”
“Aku…….” aku terpana dengan wajah memerah dan tak bisa berkata apa-apa
“Riki……..” ucapnya dengan memohon dan berwajah merah.
“Aku…..tak bisa memutuskan dengan cepat.”ucapku sambil menundukkan kepala dengan wajah memerah dan perasaan yang kacau. “Maaf., Aku akan menunggumu, kapanpun…..” ucapnya dengan tersenyum.

“Aku pergi dari kos Linda. Terasa hatiku berdebar kacau dan perasaanku meluap-luap girang. Namun, sesaat kurasakan ada sesuatu yang terlupakan. Ada perasaan sakit yang sedikit bergema di hatiku.

“Aku duduk di taman untuk memikirkan hal itu. Iya, aku rasa memang benar-benar terdapat sesuatu yang terkubur dan harus kugali lagi. Sesaat ku menoleh ke kiri. Kulihat terdapat sekuntum bunga putih tergeletak di atas teras. Bunga bakung, bunga yang selalu kusebut menggunakan bahasa Inggris, “Lily”.

“Lily…….” Ucapku dengan merenung sambil memandangi bunga bakung yang kuangkat dengan tangan kanan. “………….!!”

“Julia………” ucapku dengan mata terbelalak dan terpukul saat mengingat kembali hal yang hilang dariku.

Dengan rasa bersalah dan penuh penyesalan, aku menundukkan kepalaku. Kali ini, akulah yang terisak-isak, menyadari bagaimana bisa aku mencintai orang lain, sementara dia yang di sana sedang menungguku dengan penuh harapan, menanti janji yang pernah kulontarkan untuknya. Aku benar-benar telah berdosa padanya. Bunga “Lily” ini telah membuka mataku lebar-lebar tentang hal yang seharusnya kumiliki. Bunga “Lily”, bunga yang selalu melambangkan dirinya, bunga favoritnya.

Saat ini pula aku tersadar kembali tentang tujuanku berada di negeri sakura ini, semua hanya untuknya. Keesokan harinya, saat pulang sekolah aku menemui Linda. Ini akan terasa sakit untuknya. Tapi, bagaimanapun aku harus melakukannya.

“Riki……, bagaimana……..?” ucapnya dengan wajah memerah.
Linda……” ucapku sambil memandangnya dengan serius. “Maaf ya…… Aku…..tak bisa…….”
“Begitu ya…..” ucapnya dengan sedih sambil menundukkan kepalanya.
“Kamu pernah berkata….bahwa kamu di sini karena kamu ingin mengungkapkan ‘perasaanmu’, kan?” kataku sambil memegang pundaknya dengan tersenyum. “Seperti itu pulalah tujuanku ada di sini, untuk ‘perasaan’. Di negaraku sana terdapat seseorang yang memiliki ‘perasaan’ untukku, suatu hal yang selalu kuhargai atas dirinya. Karena aku ada di sini…..sebenarnya hanya demi dia seorang, supaya kelak aku bisa berharga untuknya. Karena dialah…..inspirasi utamaku….”
Kalau begitu, jadikan saja aku yang kedua….” Ucapnya sambil memandangku dengan memohon.”Aku rela kalau harus jadi yang kedua….. Aku…..sangat mencintaimu…., Riki……”
“Maaf, aku benar-benar tak bisa melakukannya.” Ucapku sambil menundukkan kepala. “Maaf…., Linda…..”

Selesai sudah. Semua masalah tuntas, meskipun itu menyebabkan Linda merasa sedih dan menangis. Walaupun begitu, aku tetap menganggapnya sebagai teman dekatku, begitu pula dengan dia. 2 tahun berlalu, dan akhirnya aku kembali ke kotaku, Solo. Julia, aku pulang.

Aku langsung ke rumah Julia, sampai-sampai aku belum pulang ke rumahku sendiri. Namun, di rumahnya pun tak kutemukan dirinya. Dan mungkin takkan pernah kutemukan lagi, kapanpun. Dia….telah lama pergi dariku, dari siapapun, dari semuanya.

Dengan mata yang terus berlinang air mata, ku berjalan menuju tempat yang gelap tanpa penerangan dengan penuh penyesalan. Tempat yang tak akan dikunjungi orang di malam hari. Semakin jauh ku melangkah, semakin berdarah dan perih hatiku. Tak ada yang bisa disalahkan atas semua ini, kecuali diriku.

Aku sampai. Berdiri di depan batu berbentuk salib yang terukir nama yang selalu ingin kusebut, Julia Ester. Lahir 14 Agustus 1988, meninggal 20 Februari 2007, tepat di hari ulang tahunku ke-19. Hari ini, 14 Agustus 2008, aku tertunduk berlutut di hadapan batu bertuliskan namanya itu, dan sekali lagi ku menangis terisak-isak. Seharusnya di hari ini pula aku datang padanya sebagai hadiah ulang tahunnya ke-20.

Julia……, selamat ulang tahun ya…..” ucapku dengan berlinang air mata sambil menciumkan bibirku tepat di ukiran namanya.

Setelah mencium, secara tak sengaja kulihat pada bagian bawah batu nisan tertulis “Pesan”, pesan terakhir Julia Ester. Tertulis di sana, “Aku Menunggu”. “Menunggu”, kata yang selalu kuingat saat pertama kali bertemu dengannya di kafe, saat aku “menunggu” sesuatu, saat mereka “menunggu” hidangan disajikan. Saat di mana pertama kalinya kuberikan senyuman padanya yang terlihat murung dan lesu. Saat pertama kali aku mengenalnya.

Kemudian aku pergi ke kafe itu, duduk di tempat ku pernah memberinya senyum. Pelayan kafe datang dan menawarkan hidangan-hidangannya. Kupesan kopi susu hangat, untuk mengurangi dinginnya hawa malam ini. Akupun merenung dalam keputusasaan.

“Untuk apa sekarang aku di sini…..?” ucapku dalam hati saat merenung dengan sangat putus asa dan sedih.”Ilmu ini, profesi ini, inspirasi ini, ada karena dan hanya untuknya. Dialah…..tujuanku selama ini…… Aku….. ingin mati saja……”

Sesaat kemudian pelayan datang membawakan kopi susu hangat milikku. Sementara aku minum sedikit-sedikit, kupandangi orang-orang di sekitarku. Ada yang marah-marah karena pesanan yang ditunggunya tidak belum datang juga, ada yang terlihat senang dan puas saat pesanan mereka datang, dan ada juga dari mereka yang merasa kenyang dan terpuaskan setelah menghabiskan santapannya.

“Menunggu di kafe….., menunggu pesanan tiba dan dihabiskan…..” ucapku dalam hati sambil meminum lagi kopi susuku dan memandang mereka lagi.”Kalau aku bunuh diri, akankah dia menungguku….ataukah pergi…..? Mereka pergi dengan kecewa saat pesanan mereka tidak datang-datang, namun mereka menerima dan menghabiskan pesanan mereka dengan senang dan puas saat pesanannya datang. Menunggu……., sebenarnya untuk apakah mereka menunggu…..? Untuk menyelesaikan hal yang belum tuntaskah? Apakah mereka pergi…..setelah semuanya tuntas? Apakah sebuah penantian…..akan usai setelah tujuannya tercapai, tujuan dari penantian itu sendiri….? ‘Menunggu’……? ‘Menungguku’……? Hah…?!”

Aku tersentak kaget sehingga kopi susuku tumpah sedikit. Pelayan pun datang dan memberiku lap untuk membersihkan bajuku. Saat aku sedang membersihkan bajuku, arti itu terlintas lagi. Benarkah itu adalah arti sesungguhnya dari “menunggu”? Benarkah itu adalah arti “menunggu” yang dia janjikan padaku, “menunggu secara utuh hingga pesanan tiba dan dihabiskan”, yang mana berarti menungguku hingga menyelesaikan semua, juga untuk setiap komik yang pernah kurancang untuknya?

Begitu…., ini ya yang dia inginkan dariku, untuk tetap maju dan berjuang ke depan meski tanpa dirinya. Dia akan menunggu…..selama aku terus berjalan ke depan, hingga aku benar-benar berhenti oleh karena takdir. Dia ingin aku hidup demi dia, seperti layaknya dia berjanji padaku untuk menunggu.

Kau janji untuk menunggu, maka aku akan terus hidup di sini, dan kelak akan benar-benar kutagih janjimu padaku.” Kataku dalam hati dengan tersenyum sambil membersihkan meja kemudian meminum habis kopi susuku.

Aku membayar dan segera bersiap-siap untuk pulang, karena aku merupakan penghuni terakhir di kafe ini, kafe “Lovely Lily”. Saat aku menoleh ke bangku di mana pertama kali ku memberi senyuman pada Julia, terlihat samar-samar seseorang berdiri berhadapan denganku di sana, tersenyum bahagia padaku. Julia Ester, begitulah kupanggil dirinya. Sesaat kemudian secara perlahan dia menghilang.

Julia Ester….., tunggu aku ya….” Ucapku dalam hati sambil tersenyum memandang bangku itu. “Kau telah mengatakan ‘Aku menunggu” padaku, jadi……jangan kecewakan aku. Aku mencintaimu, Julia.”

Menunggu… ..

September 10th, 2007 by daimasu

Di setiap tawa riang bahagia setiap
orang

Kurasakan hatiku semakin tersayat pisau
berkarat

Tetanus ini membekas permanen

Tak kurasakan adanya seberkaspun senyum
miliknya diantara mereka

Karena sesungguhnya, aku
sendiri…selama waktu berputar

Tak pernah ada satu hal…yang bisa
selalu ada…untukku

Orang itu…, orang yang selalu ada
untukku…
Apakah…tak bisa terus untukku…?
Aku hanya ingin dia…tuk selalu
untukku…

Di segala hal miliknya…, di
memorinya..
Tuk terus bisa…untukku…..

Kota semakin berganti, aroma kasih
tercium tajam

Di manapun…, di dalam mereka…
Namun, aromanya pahit…untukku…

Nada-nada mesra yang mengalun di
malamnya hari
Semakin menyadarkan……aku
sendiri……

Di rintik hujan yang lembut ini…,
aku…sungguh putus asa……
Tak adakah orang itu…di sini…?

Orang yang ada untukku…, bukan karena
kelebihanku…
Orang yang tidak membenciku…, oleh
karena…kelemahanku……

Orang yang ada untukku…, oleh
karena……ini aku…
Oleh karena…aku adalah aku……
seseorang…yang mencintainya…, hanya
itu…
Hanya mencintainya…
Hanya itu…

Kota ini…tak berpenghuni…, kota itu
pun…

Mereka telah bahagia…dengan mereka…
Mereka…telah bahagia…

Aku…sendiri…, menatap jalan gelap
itu…
Berharap…kulihat…
Orang…yang bisa selalu ada
untukku…tersenyum……

Spesial untuk dia yang selalu ada
untukku, meski takdirnya tak pernah
bisa selalu di sisiku

My first love letter..simply for you.. .

September 6th, 2007 by daimasu

Hai… ., apa kabar..? Mungkin ini pertama kalinya ya aku kirim surat ke kamu. Maaf,, aku terpaksa kirim pakai surat begini. Karena,, aku sungguh tidak punya cukup kekuatan untuk satu hal ini. Mengatakan satu hal ini langsung di depanmu.. . sungguh satu hal yang sudah melampaui batas kekuatanku.

Sebenernya, sudah sejak lama aku merasakan gelagat ini. Saat melihatmu, entah kenapa ada perasaan senang tersendiri yang bergejolak. Dan entah sejak kapan, jantungku terasa berat, terlebih jika dengar satu temanmu yang juga temanku sebut namamu. Aku merasa sangat tidak nyaman, sangat panas bergejolak dalam tubuhku. Setelah sekian lama melihatmu di hari-hari selanjutnya, aku mulai bisa mencerna arti degup beratku, juga rasa tidak nyaman ini.

“Aku ingin lebih dekat denganmu, aku ignin bisa lebih sering melihat senyum dan tatapan mata sipitmu yang khas dan begitu mutlak,,, ,, tepat dihadapanku…”, itu yang terngiang begitu saja setiap melihatmu. Aku tidak tahu mengapa kata itu muncul begitu saja. Mungkin memang benar. Sesungguhnya aku sudah mulai mencintaimu. Sejak dulu pun.. . , aku rasa perasaan ini sudah tumbuh begitu saja. Aku sungguh ingin… . bisa jadi pacarmu,, , dan menghadapi segala masalahku, masalahmu,, berdua bersamamu…tidak seperti selama ini yang aku hanya bisa menjadi temanmu.. . sungguh ku mencintaimu dan ingin selalu bersamamu, ..
selamanya…

to : someone special who always can recharge me when I’m down